(Kitani.id):Tingkat konsumsi sayur masyarakat Indonesia saat ini dinilai masih sangat mengkhawatirkan. Pakar pertanian, Bayu Krisnamurthi, mengungkapkan bahwa angka konsumsi nasional belum mencapai standar ideal global. Berdasarkan riset WHO, masyarakat Indonesia rata-rata hanya mengonsumsi 38,5 kilokalori sayur per hari.
Padahal, rekomendasi minimal mencapai 62,5 kilokalori untuk hidup sehat. Angka ini bahkan harus meningkat hingga tiga kali lipat bagi ibu hamil dan anak-anak. “Konsumsi sayur di Indonesia idealnya naik dua kali lipat dari sekarang,” tegas Bayu di Jakarta, Rabu (22 April 2026).
Kabar baiknya, kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat mulai tumbuh signifikan. Hasil survei menunjukkan sekitar 60 persen warga ingin menambah porsi sayur harian mereka. Di sinilah Program Makan Bergizi Gratis memegang peran penting sebagai pendorong perubahan paradigma pangan.
Bayu menilai program ini bukan sekadar bantuan pangan biasa. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mencetak tenaga kerja produktif di masa depan. Serat dan vitamin dari sayuran tidak bisa digantikan oleh komoditas pangan lainnya.
Pemerintah menargetkan program ini menjangkau 82,9 juta penerima manfaat sepanjang tahun 2026. Hingga Februari lalu, realisasi bantuan gizi telah menyentuh angka 61 juta jiwa. Fokus utama tetap pada kelompok rentan seperti siswa sekolah, balita, serta ibu menyusui.
Untuk memperluas jangkauan, ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini telah beroperasi di berbagai daerah. Pemerintah menargetkan total 36.104 unit SPPG aktif untuk melayani seluruh pelosok negeri. Selain menekan angka stunting, langkah ini diharapkan mampu membangkitkan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.(*)








