(Kitani.id): Sektor pertanian di Bumi Ruwa Jurai kembali membuktikan peran vitalnya bagi ekonomi daerah. Hal ini terlihat dari besarnya arus permodalan yang mengalir ke kantong para petani melalui perbankan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Lampung, Purwadhi Adhiputranto, menyebutkan bahwa pertanian mendominasi penyerapan KUR di Lampung. Kontribusi sektor ini mencapai angka 56,24 persen dari total modal yang disalurkan.
“Plafon KUR 2026 di Lampung itu jumlahnya sebesar Rp10,63 triliun. Sejak Januari sampai Mei 2026, realisasinya baru mencapai 33,76 persen atau sebesar Rp3,59 triliun,” ungkap Purwadhi, Jumat (15 Mei 2026).
Lampung Tengah Jadi Wilayah Paling Aktif
Realisasi modal tersebut sebagian besar mengalir melalui skema KUR mikro sebesar Rp2,8 triliun. Selanjutnya, diikuti oleh KUR kecil senilai Rp706 miliar dan skema KUR super mikro.
Penyaluran dana ini paling banyak dilakukan melalui Bank Rakyat Indonesia dengan porsi 70,25 persen. Sementara itu, Lampung Tengah menjadi kabupaten dengan pemanfaatan modal tertinggi sebesar 24,11 persen.
Fakta bahwa pertanian mendominasi penyerapan KUR di Lampung juga terlihat dari profil penerima manfaat. Tercatat ada 61.299 debitur yang telah mengakses dana segar untuk pengembangan usaha mereka.
Selain KUR, pelaku usaha ultra mikro juga mendapatkan dukungan dana sebesar Rp241,7 miliar. Dana tersebut disalurkan melalui lembaga keuangan non-bank untuk 33.288 orang debitur.
Pemerintah berharap sisa plafon yang tersedia dapat terserap maksimal pada bulan-bulan mendatang. Hal ini sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tingkat pedesaan.
“Diharapkan masyarakat bisa banyak memanfaatkan pembiayaan ini terutama untuk skema UMi yang masih bisa terus dimanfaatkan,” kata Purwadhi menutup penjelasannya.(*)








