Keadilan yang Belum Sampai ke Sawah

Jumat, 1 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketimpangan ekonomi buruh tani di Lampung yang tidak sebanding dengan beban kerja.(Ilustrasi: Kitani)

Ketimpangan ekonomi buruh tani di Lampung yang tidak sebanding dengan beban kerja.(Ilustrasi: Kitani)

(Kitani.id): Setiap Hari Buruh, kita bicara tentang pekerja. Tentang upah, kesejahteraan, dan keadilan. Tetapi ada satu kelompok pekerja yang sering luput dari perhatian, buruh tani.

Padahal dari tangan merekalah pangan kita berasal. Di Lampung, sektor pertanian menyerap sekitar 46,19% tenaga kerja, tetapi kontribusinya terhadap PDRB hanya sekitar 24,27%.

Ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah potret ketimpangan yang nyata. Hampir separuh tenaga kerja berada di sektor ini, tetapi nilai ekonomi yang dihasilkan tidak sebanding. Dengan kata lain, banyak yang bekerja, tetapi sedikit yang sejahtera.

Masalahnya bukan pada kemauan bekerja. Buruh tani bekerja lebih awal dan lebih lama dibanding banyak sektor lain. Masalahnya ada pada sistem yang tidak memberikan nilai yang layak atas kerja tersebut.

Baca Juga  Ekonomi Lampung Bertumpu pada Kekuatan Petani dan Hilirisasi

Produktivitas menjadi kunci. Di Lampung, nilai tambah per tenaga kerja di sektor industri bisa mencapai hampir empat kali lipat dibandingkan sektor pertanian. Selama kesenjangan ini terjadi, maka pilihan rasional bagi tenaga kerja, terutama generasi muda, adalah meninggalkan pertanian. Dan itu sudah mulai terjadi.

Kita sering bertanya, mengapa anak muda tidak mau bertani. Jawabannya sederhana karena bertani belum cukup menjanjikan secara ekonomi.

Di sisi lain, kita juga melihat ironi di pasar. Ketika harga pangan naik, konsumen mengeluh. Ketika harga jatuh saat panen, petani merugi. Dua kondisi ekstrem ini terjadi berulang, seolah menjadi siklus yang tak pernah selesai.

Baca Juga  Tumbal Angka di Tanah Surplus

Di tengah situasi itu, nilai terbesar justru berada di luar petani seperti di perdagangan, distribusi, dan industri pengolahan. Di hulu -tempat produksi berlangsung- bagian yang diterima paling kecil.

Inilah yang disebut sebagai paradoks pertanian di mana sektor yang menopang kehidupan justru belum mampu menyejahterakan pelakunya.

Selama ini, kita terlalu fokus pada produksi. Meningkatkan hasil, memperluas lahan, mendorong panen. Tetapi kita lupa bahwa produksi tanpa sistem hanya menghasilkan masalah baru, harga jatuh saat panen dan harga melonjak saat pasokan terganggu.

Persoalan Utamanya Bukan Produksi, Melainkan Model

Model yang dimaksud belum mampu menghubungkan petani dengan pasar secara adil. Model yang belum menjadikan petani sebagai bagian dari rantai nilai, bukan sekadar pemasok bahan mentah. Model yang belum mampu memastikan bahwa nilai tambah tidak berhenti di hilir.

Baca Juga  Gerai KDKMP Membuka Peluang Besar Memajukan Produk Lokal dan UMKM

Hari Buruh seharusnya menjadi momentum untuk memperluas cara pandang kita. Bahwa keadilan ketenagakerjaan tidak hanya berlaku di sektor formal dan industri, tetapi juga di sektor pertanian.

Karena jika buruh tani tetap berada dalam posisi paling lemah, maka ketahanan pangan yang kita banggakan sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Keadilan tidak boleh berhenti di kota. Ia harus sampai ke sawah. Selama itu belum terjadi, maka kesejahteraan belum benar-benar hadir.(*)

(Penulis: Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si./Ketua Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Unila)

Berita Terkait

Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri
Singkong Lampung, dari Keunggulan Komparatif Hingga Pusat Inovasi Nasional
Godzilla Mengancam Lampung, Harga Pangan Berpotensi Melambung
Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung
Plastik, Godzilla dan Pertanian
Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
Tumbal Angka di Tanah Surplus
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:23 WIB

Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:24 WIB

Singkong Lampung, dari Keunggulan Komparatif Hingga Pusat Inovasi Nasional

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:17 WIB

Keadilan yang Belum Sampai ke Sawah

Sabtu, 25 April 2026 - 20:13 WIB

Godzilla Mengancam Lampung, Harga Pangan Berpotensi Melambung

Rabu, 15 April 2026 - 11:41 WIB

Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung

Berita Terbaru

sistem kesehatan hewan modern. (Ilustrasi: Kitani)

Peternakan

Kementan Perkuat Sistem Kesehatan Hewan Modern Berbasis iSIKHNAS

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:25 WIB

Harga ayam ras hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak anjlok hingga sekitar 8% di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). (Ilustrasi: Kitani)

Dinamika

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Lampung (tengah) bersama PPL Provinsi Lampung. (Foto: Kitani)

Dinamika

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Penyaluran KUR di Lampung mencapai Rp3,59 triliun hingga pertengahan Mei 2026. (Ilustrasi: ist)

Dinamika

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB