(Kitani.id): Fenomena banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau masih menjadi persoalan berulang di Kota Bandar Lampung. Dua kondisi yang tampak berlawanan ini pada dasarnya memiliki akar masalah yang sama, yaitu terganggunya siklus hidrologi, khususnya pada proses infiltrasi atau peresapan air ke dalam tanah.
Dalam kondisi alami, ketika hujan turun, air tidak seluruhnya mengalir di permukaan. Sebagian akan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah, mengisi cadangan air tanah (groundwater), dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Namun, di kawasan perkotaan seperti Bandar Lampung, proses ini mengalami gangguan signifikan akibat meningkatnya tutupan lahan kedap air seperti beton, aspal, dan bangunan.
Secara geografis, Bandar Lampung memiliki karakteristik wilayah yang unik, yaitu berupa cekungan yang dikelilingi oleh perbukitan. Kondisi ini menyebabkan air hujan dari daerah hulu cenderung mengalir dan terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Ketika kapasitas drainase terbatas dan kemampuan tanah untuk menyerap air menurun, maka banjir menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Di sisi lain, berkurangnya infiltrasi juga berdampak pada menurunnya pengisian air tanah.
Akibatnya, pada musim kemarau, masyarakat mulai merasakan kekurangan air bersih. Dengan kata lain, air yang berlimpah saat musim hujan tidak tersimpan dengan baik untuk dimanfaatkan pada periode kering.
Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengaliran air (drainase), tetapi juga pada peningkatan kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air. Dua teknologi sederhana yang relevan untuk tujuan ini adalah sumur resapan dan lubang biopori.
Wadah Sementara
Sumur resapan merupakan bangunan sederhana berbentuk lubang vertikal dengan diameter umumnya berkisar antara 80–120 cm dan kedalaman 1,5–3 meter, tergantung kondisi tanah dan muka air tanah.
Sumur ini biasanya dibuat di dekat bangunan, khususnya pada titik jatuhnya air dari atap (cucuran talang). Air hujan yang sebelumnya langsung dialirkan ke saluran drainase dialihkan ke dalam sumur resapan, kemudian secara perlahan meresap ke dalam tanah.
Secara prinsip, sumur resapan berfungsi sebagai “wadah sementara” yang memperlambat aliran air dan memberikan waktu bagi air untuk meresap.
Dengan demikian, volume limpasan permukaan (runoff) dapat dikurangi secara signifikan. Selain itu, air yang masuk ke dalam tanah akan berkontribusi terhadap pengisian kembali air tanah.
Sementara itu, lubang biopori merupakan lubang silindris kecil dengan diameter sekitar 10–15 cm dan kedalaman 80–100 cm. Lubang ini dibuat secara vertikal ke dalam tanah dan biasanya diisi dengan bahan organik seperti daun kering atau sisa dapur.
Kehadiran bahan organik ini akan menarik aktivitas organisme tanah seperti cacing dan mikroorganisme, yang kemudian membentuk saluran-saluran alami (biopori) di dalam tanah.
Proses itu meningkatkan porositas tanah dan mempercepat infiltrasi air. Dengan kata lain, biopori tidak hanya berfungsi sebagai saluran masuk air, tetapi juga sebagai “pabrik alami” yang memperbaiki struktur tanah.
Selain itu, bahan organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan terdekomposisi menjadi kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.
Jika dilihat dari mekanisme kerjanya, sumur resapan dan biopori memiliki fungsi yang saling melengkapi. Sumur resapan menangani volume air dalam jumlah besar, sementara biopori meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah secara menyeluruh.
Kombinasi keduanya dapat secara efektif mengurangi genangan air sekaligus meningkatkan cadangan air tanah.
Yang menjadi keunggulan dari kedua teknologi ini adalah sifatnya yang sederhana, murah, dan dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat. Tidak diperlukan teknologi tinggi atau investasi besar.
Sumur resapan dapat dibuat di halaman rumah, sekolah, perkantoran, maupun fasilitas umum lainnya. Biopori bahkan dapat dibuat dalam jumlah banyak di lahan terbatas sekalipun.
Dalam konteks Kota Bandar Lampung, penerapan sumur resapan dan biopori memiliki relevansi yang tinggi. Dengan kondisi topografi yang cenderung menampung aliran air dari wilayah sekitarnya, upaya meningkatkan infiltrasi di tingkat tapak (site level) menjadi sangat penting.
Artinya, setiap bidang lahan memiliki peran dalam mengurangi beban limpasan air secara keseluruhan.
Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep pengelolaan air berbasis masyarakat (community-based water management), di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam pengelolaan sumber daya air.
Setiap individu atau kelompok dapat berkontribusi secara langsung dalam mengurangi risiko banjir dan kekeringan.
Sebagai ilustrasi, air hujan yang jatuh di atap rumah sebenarnya merupakan potensi yang besar. Jika tidak dikelola, air tersebut akan langsung mengalir ke saluran drainase dan berkontribusi terhadap banjir.
Namun dengan adanya sumur resapan, air tersebut dapat “dipanen” dan dimasukkan kembali ke dalam tanah. Praktik ini dikenal sebagai rainwater harvesting dalam bentuk infiltrasi.
Jika dilakukan secara masif, dampaknya akan sangat signifikan. Tidak hanya mengurangi genangan air, tetapi juga meningkatkan ketersediaan air tanah dalam jangka panjang.
Dalam skala kota, ini dapat menjadi salah satu strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, khususnya dalam menghadapi pola hujan yang semakin ekstrem.
Oleh karena itu, penting untuk mendorong sumur resapan dan biopori sebagai bagian dari gerakan bersama. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam penyediaan infrastruktur utama, namun masyarakat juga memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi melalui tindakan sederhana di lingkungan masing-masing.
Dengan memahami konsep dasar, bentuk, dan cara kerja sumur resapan serta biopori, diharapkan masyarakat tidak lagi memandangnya sebagai sesuatu yang rumit. Sebaliknya, ini adalah solusi praktis yang berbasis ilmu pengetahuan dan dapat langsung diterapkan.
Pada akhirnya, persoalan banjir dan kekeringan tidak hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan struktural berskala besar, tetapi juga melalui intervensi kecil yang dilakukan secara kolektif.
Memanen air hujan dari pekarangan sendiri bukan hanya tindakan teknis, tetapi juga bentuk kesadaran ekologis yang perlu terus ditumbuhkan di Kota Bandar Lampung.(*)









