Singkong Lampung, dari Keunggulan Komparatif Hingga Pusat Inovasi Nasional

Rabu, 6 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung sebagai sentra singkong nasional serta pusat pengembangan inovasi. (Ilustrasi: Kitani)

Lampung sebagai sentra singkong nasional serta pusat pengembangan inovasi. (Ilustrasi: Kitani)

(Kitani.id): Lampung telah lama menempati posisi penting sebagai pusat produksi singkong di Indonesia. Komoditas ini tidak hanya menjadi penopang utama sektor pertanian, tetapi juga berperan besar dalam struktur ekonomi masyarakat pedesaan.

Di banyak daerah di Lampung, singkong bukan sekadar tanaman budidaya, melainkan sumber utama penghidupan masyarakat.

Pada tingkat nasional, produksi singkong Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar 15,1 juta ton dengan luas panen berkisar antara 700–800 ribu hektare. Dalam konteks ini, Lampung memiliki peran yang sangat dominan.

Pada tahun yang sama, provinsi ini menghasilkan sekitar 7,9 juta ton singkong dengan luas panen lebih dari 300 ribu hektare, atau hampir separuh dari total produksi nasional.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Lampung bukan hanya sentra produksi, tetapi juga penentu utama dinamika industri singkong di Indonesia.

Namun, peran Lampung tidak hanya terbatas pada produksi bahan baku. Di sektor hilir, industri pengolahan singkong, khususnya tapioka, berkembang cukup pesat. Tercatat sekitar 71 perusahaan tapioka beroperasi di Lampung dari total kurang lebih 140 perusahaan di Indonesia.

Hal ini menempatkan Lampung sebagai pusat utama industri pengolahan singkong nasional, meskipun masih terdapat tantangan dalam aspek tata kelola dan pemerataan nilai tambah.

Baca Juga  “Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Selain itu, singkong telah berkembang menjadi komoditas dengan nilai ekonomi yang lebih luas melalui berbagai produk turunan seperti tepung tapioka, keripik, hingga bioetanol.

Perkembangan industri ini tidak hanya menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat struktur ekonomi daerah.

Dengan demikian, singkong memiliki peran ganda sebagai komoditas pertanian sekaligus penggerak industri.

Jika ditinjau dari sisi identitas wilayah, singkong dan tebu, banyak orang akan langsung teringat pada Lampung sebagai daerah yang identik dengan 2 komoditas tersebut.

Produksi yang melimpah serta dukungan industri menjadikan Lampung memiliki ciri khas kuat di sektor ini. Sementara jika berbicara tentang kelapa sawit, pikiran seringkali mengarah ke Sumatera Utara yang dikenal sebagai salah satu pusat perkebunan dan penelitian perkebunan sawit.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki spesialisasi keunggulan komoditas yang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus ciri khasnya masing-masing.

Dari sudut pandang ekonomi, Lampung memiliki keunggulan komparatif yang kuat. Kondisi iklim dan tanah yang mendukung, ketersediaan lahan yang luas, serta biaya produksi yang relatif rendah menjadikan singkong sebagai komoditas yang sangat sesuai dikembangkan.

Baca Juga  Plastik, Godzilla dan Pertanian

Selain itu, karakter tanaman singkong yang mudah beradaptasi semakin memperkuat posisi Lampung sebagai produsen utama.

Produsen Sekaligus Pusat Pengembangan

Di sisi lain, Lampung juga mulai menunjukkan keunggulan kompetitif. Hal ini terlihat dari berkembangnya industri hilir berbasis singkong, dukungan infrastruktur, serta akses pasar yang cukup baik, terutama menuju Pulau Jawa.

Pengalaman petani, sistem distribusi yang sudah terbentuk, serta kerja sama antara pelaku usaha dan industri menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing komoditas ini.

Peran dunia akademik juga menjadi elemen penting dalam pengembangan sektor ini. Universitas Lampung, khususnya Fakultas Pertanian, berperan aktif melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam berbagai penelitian yang berfokus pada singkong dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Misalnya mahasiswa bidang agronomi fokus pada peningkatan budidaya dan produktifitas, mahasiswa agribisnis mengkaji rantai pasok dan sistem pemasaran, dan mahasiswa proteksi tanaman meneliti hama dan penyakit.

Kemudian mahasiswa ilmu tanah mendalami pengelolaan kesuburan tanah dan pemupukan. Sedangkan mahasiswa teknologi hasil pertanian mengembangkan inovasi produk olahan singkong.

Lebih jauh, gagasan pembentukan National Cassava Centre di Universitas Lampung menjadi langkah strategis yang relevan. Pusat ini dapat berfungsi sebagai wadah integrasi antara riset, industri, dan kebijakan dalam pengembangan singkong secara nasional.

Baca Juga  Ekspor Tapioka Lampung Senilai Rp26 Miliar ke Tiongkok

Mulai dari inovasi varietas, teknologi budidaya, pengolahan hasil, hingga strategi hilirisasi, seluruhnya dapat dikembangkan secara lebih terarah dan terkoordinasi.

Dengan adanya pusat tersebut, Universitas Lampung tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai motor inovasi dalam pengembangan industri singkong nasional.

Hal ini memperkuat posisi Lampung sebagai kandidat kuat pusat pengembangan cassava di Indonesia.

Sinergi antara riset, inovasi, dan praktik lapangan semakin menegaskan bahwa Lampung tidak hanya berfungsi sebagai lumbung produksi, tetapi juga berpotensi menjadi pusat pengetahuan dan inovasi singkong di tingkat nasional.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, singkong sangat layak menjadi prioritas dalam pembangunan pertanian Lampung. Tantangan ke depan bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga penguatan hilirisasi, stabilitas tata niaga, serta peningkatan kesejahteraan petani.

Dengan dukungan yang konsisten dari pemerintah, akademisi, dan pelaku industri, Lampung memiliki peluang besar untuk berkembang dari sekadar sentra produksi menjadi pusat inovasi dan industri singkong yang berdaya saing global.(*)

Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)
Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)

Berita Terkait

Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri
Keadilan yang Belum Sampai ke Sawah
Godzilla Mengancam Lampung, Harga Pangan Berpotensi Melambung
Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung
Plastik, Godzilla dan Pertanian
Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
Tumbal Angka di Tanah Surplus
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:23 WIB

Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:24 WIB

Singkong Lampung, dari Keunggulan Komparatif Hingga Pusat Inovasi Nasional

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:17 WIB

Keadilan yang Belum Sampai ke Sawah

Sabtu, 25 April 2026 - 20:13 WIB

Godzilla Mengancam Lampung, Harga Pangan Berpotensi Melambung

Rabu, 15 April 2026 - 11:41 WIB

Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung

Berita Terbaru

sistem kesehatan hewan modern. (Ilustrasi: Kitani)

Peternakan

Kementan Perkuat Sistem Kesehatan Hewan Modern Berbasis iSIKHNAS

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:25 WIB

Harga ayam ras hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak anjlok hingga sekitar 8% di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). (Ilustrasi: Kitani)

Dinamika

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Lampung (tengah) bersama PPL Provinsi Lampung. (Foto: Kitani)

Dinamika

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Penyaluran KUR di Lampung mencapai Rp3,59 triliun hingga pertengahan Mei 2026. (Ilustrasi: ist)

Dinamika

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB