(Kitani.id): Fenomena El Niño kembali muncul dengan intensitas yang lebih kuat, sering disebut sebagai “Godzilla”. Di Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar anomali cuaca, tetapi sinyal meningkatnya kerentanan sistem pangan terhadap perubahan iklim.
Dampak utamanya bermula dari berkurangnya curah hujan secara signifikan. Kondisi ini memicu kekeringan di berbagai wilayah, mengganggu jadwal tanam, serta menurunkan produktivitas pertanian.
Dalam kerangka supply and demand, penurunan produksi dengan permintaan yang tetap tinggi hampir selalu berujung pada kenaikan harga.
Di Indonesia, tekanan tersebut mulai terlihat dari dinamika produksi padi. Konsumsi beras masih sangat besar, sekitar 79–81 kg per kapita per tahun, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap komoditas ini sangat tinggi. Akibatnya, gangguan kecil pada produksi saja dapat berdampak langsung pada harga di pasar.
Di tingkat daerah, Provinsi Lampung memberikan gambaran yang cukup jelas. Produksi padi berada di kisaran 2,76 juta ton pada 2023 dan meningkat tipis menjadi sekitar 2,79 juta ton pada 2024.
Walaupun terlihat stabil, kenaikan yang sangat terbatas ini menunjukkan bahwa sektor pertanian berada dalam kondisi yang mudah tertekan oleh perubahan iklim.
Berbeda dengan padi, jagung cenderung lebih tahan terhadap kondisi kering. Produksinya relatif lebih stabil dan bahkan dapat meningkat dalam beberapa periode. Namun demikian, dalam skenario El Niño yang lebih ekstrem, risiko penurunan hasil tetap tidak dapat diabaikan.
Sementara itu, kopi menjadi komoditas yang menghadapi tantangan tersendiri. Sebagai salah satu produk unggulan Lampung, produksi kopi tercatat sekitar 105 ribu ton pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 141 ribu ton pada 2024.
Namun, sifat tanaman kopi yang sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan membuatnya rentan terhadap kekeringan berkepanjangan.
Di sisi lain, konsumsi kopi di Indonesia terus menunjukkan tren meningkat hingga sekitar 1,8 kg per kapita per tahun. Ketika permintaan naik sementara produksi rentan terganggu, tekanan terhadap harga menjadi semakin kuat, baik di pasar domestik maupun global.
Secara keseluruhan, terlihat pola yang cukup jelas. Beras merupakan komoditas paling rentan karena tingkat konsumsi yang tinggi.
Jagung memiliki ketahanan yang lebih baik, meskipun tetap memiliki batas risiko. Sedangkan kopi menghadapi tekanan ganda dari faktor iklim dan permintaan pasar yang terus meningkat.
Butuh Strategi Adaptif dan Berkelanjutan
Perlu dipahami bahwa El Niño “Godzilla” bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Fenomena ini merupakan bagian dari pola perubahan iklim yang semakin sering terjadi, sehingga gangguan terhadap produksi pangan berpotensi menjadi hal yang berulang.
Selama ini, respons yang diberikan cenderung bersifat jangka pendek, seperti impor atau operasi pasar saat harga melonjak. Meskipun penting, langkah tersebut belum menyentuh akar permasalahan.
Ke depan, dibutuhkan strategi yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Penguatan sistem irigasi tahan kekeringan, pengembangan varietas tanaman yang lebih tangguh, serta diversifikasi sumber pangan menjadi langkah yang semakin mendesak.
Pada akhirnya, El Niño “Godzilla” menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Dampaknya bukan hanya dirasakan di sektor pertanian, tetapi juga langsung sampai ke masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari.(*)









