Godzilla Mengancam Lampung, Harga Pangan Berpotensi Melambung

Sabtu, 25 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena El Niño

Fenomena El Niño "Godzilla" memicu kekeringan ekstrem yang mengancam produktivitas pangan.(Ilustrasi: Kitani)

(Kitani.id): Fenomena El Niño kembali muncul dengan intensitas yang lebih kuat, sering disebut sebagai “Godzilla”. Di Indonesia, peristiwa ini bukan sekadar anomali cuaca, tetapi sinyal meningkatnya kerentanan sistem pangan terhadap perubahan iklim.

Dampak utamanya bermula dari berkurangnya curah hujan secara signifikan. Kondisi ini memicu kekeringan di berbagai wilayah, mengganggu jadwal tanam, serta menurunkan produktivitas pertanian.

Dalam kerangka supply and demand, penurunan produksi dengan permintaan yang tetap tinggi hampir selalu berujung pada kenaikan harga.

Di Indonesia, tekanan tersebut mulai terlihat dari dinamika produksi padi. Konsumsi beras masih sangat besar, sekitar 79–81 kg per kapita per tahun, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap komoditas ini sangat tinggi. Akibatnya, gangguan kecil pada produksi saja dapat berdampak langsung pada harga di pasar.

Di tingkat daerah, Provinsi Lampung memberikan gambaran yang cukup jelas. Produksi padi berada di kisaran 2,76 juta ton pada 2023 dan meningkat tipis menjadi sekitar 2,79 juta ton pada 2024.

Baca Juga  Antisipasi El Nino Lampung Siapkan 1.222 Irigasi Perpompaan

Walaupun terlihat stabil, kenaikan yang sangat terbatas ini menunjukkan bahwa sektor pertanian berada dalam kondisi yang mudah tertekan oleh perubahan iklim.

Berbeda dengan padi, jagung cenderung lebih tahan terhadap kondisi kering. Produksinya relatif lebih stabil dan bahkan dapat meningkat dalam beberapa periode. Namun demikian, dalam skenario El Niño yang lebih ekstrem, risiko penurunan hasil tetap tidak dapat diabaikan.

Sementara itu, kopi menjadi komoditas yang menghadapi tantangan tersendiri. Sebagai salah satu produk unggulan Lampung, produksi kopi tercatat sekitar 105 ribu ton pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 141 ribu ton pada 2024.

Namun, sifat tanaman kopi yang sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan membuatnya rentan terhadap kekeringan berkepanjangan.

Baca Juga  Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri

Di sisi lain, konsumsi kopi di Indonesia terus menunjukkan tren meningkat hingga sekitar 1,8 kg per kapita per tahun. Ketika permintaan naik sementara produksi rentan terganggu, tekanan terhadap harga menjadi semakin kuat, baik di pasar domestik maupun global.

Secara keseluruhan, terlihat pola yang cukup jelas. Beras merupakan komoditas paling rentan karena tingkat konsumsi yang tinggi.

Jagung memiliki ketahanan yang lebih baik, meskipun tetap memiliki batas risiko. Sedangkan kopi menghadapi tekanan ganda dari faktor iklim dan permintaan pasar yang terus meningkat.

Butuh Strategi Adaptif dan Berkelanjutan

Perlu dipahami bahwa El Niño “Godzilla” bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Fenomena ini merupakan bagian dari pola perubahan iklim yang semakin sering terjadi, sehingga gangguan terhadap produksi pangan berpotensi menjadi hal yang berulang.

Baca Juga  Cegah Krisis Pangan di Lampung, Petani Harus Mulai Mandiri Pupuk Organik

Selama ini, respons yang diberikan cenderung bersifat jangka pendek, seperti impor atau operasi pasar saat harga melonjak. Meskipun penting, langkah tersebut belum menyentuh akar permasalahan.

Ke depan, dibutuhkan strategi yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Penguatan sistem irigasi tahan kekeringan, pengembangan varietas tanaman yang lebih tangguh, serta diversifikasi sumber pangan menjadi langkah yang semakin mendesak.

Pada akhirnya, El Niño “Godzilla” menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Dampaknya bukan hanya dirasakan di sektor pertanian, tetapi juga langsung sampai ke masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari.(*)

Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)
Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)

Berita Terkait

Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri
Singkong Lampung, dari Keunggulan Komparatif Hingga Pusat Inovasi Nasional
Keadilan yang Belum Sampai ke Sawah
Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung
Plastik, Godzilla dan Pertanian
Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
Tumbal Angka di Tanah Surplus
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:23 WIB

Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:24 WIB

Singkong Lampung, dari Keunggulan Komparatif Hingga Pusat Inovasi Nasional

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:17 WIB

Keadilan yang Belum Sampai ke Sawah

Sabtu, 25 April 2026 - 20:13 WIB

Godzilla Mengancam Lampung, Harga Pangan Berpotensi Melambung

Rabu, 15 April 2026 - 11:41 WIB

Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung

Berita Terbaru

sistem kesehatan hewan modern. (Ilustrasi: Kitani)

Peternakan

Kementan Perkuat Sistem Kesehatan Hewan Modern Berbasis iSIKHNAS

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:25 WIB

Harga ayam ras hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak anjlok hingga sekitar 8% di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). (Ilustrasi: Kitani)

Dinamika

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Lampung (tengah) bersama PPL Provinsi Lampung. (Foto: Kitani)

Dinamika

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Penyaluran KUR di Lampung mencapai Rp3,59 triliun hingga pertengahan Mei 2026. (Ilustrasi: ist)

Dinamika

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB