Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung

Rabu, 15 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penerapan skema Willingness To Pay (WTP) atau kesediaan membayar dari warga hilir untuk pelestarian hutan di hulu.(Ilustrasi: Kitani)

Penerapan skema Willingness To Pay (WTP) atau kesediaan membayar dari warga hilir untuk pelestarian hutan di hulu.(Ilustrasi: Kitani)

(Kitani.id): Banjir kembali mengepung wilayah hilir Lampung sepanjang tahun 2026. Mulai dari Bandar Lampung, Metro, hingga Lampung Tengah, ribuan rumah terendam dan aktivitas ekonomi lumpuh total.

Hujan deras memang jadi pemicu utama. Namun, carut-marut tata kelola lingkungan di hulu dan hilir membuat dampak banjir kali ini jauh lebih merusak.

Di wilayah hilir, pembangunan perumahan melaju pesat tanpa drainase yang mumpuni. Banyak kawasan resapan air kini berubah menjadi beton. Sementara itu, wilayah hulu di Lampung Barat dan Tanggamus yang seharusnya menjadi penyangga, kondisinya kian kritis.

Hutan yang dulu menyerap air, kini banyak yang gundul akibat perambahan lahan. Kondisi ini menyebabkan daya serap tanah menurun drastis. Air hujan langsung meluncur deras ke hilir tanpa penghalang.

Baca Juga  Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana

Keadilan Ekosistem Lewat Willingness To Pay

Menghadapi siklus tahunan ini, pendekatan Willingness To Pay kini menjadi solusi yang sangat rasional. Konsep ini mengajak masyarakat dan pemerintah di wilayah hilir untuk berkontribusi secara finansial. Uang tersebut nantinya digunakan untuk membiayai warga di wilayah hulu agar tetap menjaga kelestarian hutan mereka.

Skema ini dikenal sebagai imbal jasa lingkungan. Pihak yang menikmati manfaat air bersih dan keamanan dari banjir (hilir), membantu biaya pemeliharaan alam kepada penjaga ekosistem (hulu). Kontribusi ini bisa melalui transfer anggaran antar-daerah atau iuran perusahaan pengguna air seperti PDAM.

Baca Juga  Cegah Krisis Pangan di Lampung, Petani Harus Mulai Mandiri Pupuk Organik

Sebenarnya, Lampung pernah memulai inisiasi ini 20 tahun lalu. Namun, saat itu pemerintah di wilayah hilir masih enggan menerapkannya secara penuh. Padahal, kolaborasi ini adalah kunci agar penanganan banjir tidak hanya bersifat sementara.

Membangun Kolaborasi Hulu dan Hilir

Saat ini, sektor swasta di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai sudah mulai bergerak. Mereka memberikan kompensasi kepada masyarakat hulu dalam bentuk pemberdayaan ekonomi dan dukungan bibit tanaman. Langkah nyata ini membuktikan bahwa pelestarian hutan bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga  Tumbal Angka di Tanah Surplus

Ke depan, pemerintah daerah perlu memperkuat regulasi agar skema Willingness To Pay ini punya payung hukum yang kuat. Tanpa adanya kepastian hukum, upaya menjaga hutan hulu hanya akan menjadi beban bagi warga setempat tanpa ada apresiasi dari warga hilir.

Banjir tahun 2026 harus menjadi titik balik bagi Lampung. Kita tidak bisa hanya fokus membangun talud di kota, sementara hutan di gunung terus dibabat.

Pendekatan terpadu antara hulu dan hilir adalah satu-satunya jalan agar anak cucu kita tidak lagi terjebak dalam siklus banjir yang sama.(*)

Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)
Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)

Berita Terkait

Plastik, Godzilla dan Pertanian
Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
Tumbal Angka di Tanah Surplus
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?
Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG
Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?
Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya
Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 11:41 WIB

Solusi Willingness To Pay, Cara Adil Atasi Banjir Tahunan di Lampung

Selasa, 14 April 2026 - 10:21 WIB

Plastik, Godzilla dan Pertanian

Rabu, 8 April 2026 - 17:24 WIB

Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate

Senin, 6 April 2026 - 17:04 WIB

Tumbal Angka di Tanah Surplus

Senin, 6 April 2026 - 15:05 WIB

“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Berita Terbaru

TNI, Polri, dan Kadin masing-masing mengelola 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna menjamin kelancaran program.(Ilustrasi: Kitani)

Dinamika

Kok Bisa TNI, Polri dan Kadin Punya Seribu Dapur MBG?

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:47 WIB