Plastik, Godzilla dan Pertanian

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antisipasi kenaikan harga plastik global melalui pengalihan penggunaan mulsa organik, lalu inovasi smart farming, dan penguatan subsidi dari pemerintah.(ilustrasi: Kitani)

Antisipasi kenaikan harga plastik global melalui pengalihan penggunaan mulsa organik, lalu inovasi smart farming, dan penguatan subsidi dari pemerintah.(ilustrasi: Kitani)

(Kitani.id): Kenaikan harga plastik kini menjadi pukulan nyata bagi sektor pertanian. Dalam waktu singkat, harga berbagai produk plastik, hari ini selang hitam ukuran 3 inci, melonjak hingga sekitar 60 persen. Kenaikan tajam ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, terutama konflik Iran Vs Amerika Serikat yang mengganggu pasokan minyak dunia sebagai bahan baku utama plastik.

Selama ini, plastik telah menjelma menjadi fondasi penting dalam praktik pertanian modern. Mulsa plastik, misalnya, digunakan secara luas pada komoditas hortikultura seperti cabai dan semangka, karena kemampuannya menjaga kelembapan tanah dan menekan pertumbuhan gulma. Dalam budidaya cabai, kebutuhan mulsa bisa mencapai sekitar 15 roll per hektar, atau setara dengan 180–200 kilogram.

Jika melihat skala nasional, luas panen cabai yang menembus lebih dari 140 ribu hektar menunjukkan besarnya konsumsi plastik di sektor ini. Dengan asumsi sebagian besar lahan menggunakan mulsa, kebutuhan untuk cabai saja dapat mencapai 25–28 ribu ton per tahun.

Baca Juga  Konflik Timur Tengah Mengancam, Pemprov Lampung Jaga Sektor Pertanian Tetap Stabil

Sementara pada semangka, yang juga sangat bergantung pada mulsa plastik, kebutuhan nasional diperkirakan berada di kisaran 5–10 ribu ton per tahun. Artinya, dua komoditas ini saja sudah menyumbang konsumsi lebih dari 30 ribu ton mulsa plastik setiap tahun.

Kebutuhan Pasca Panen

Ketergantungan terhadap plastik tidak berhenti pada mulsa. Pupuk padatan umumnya menggunakan karung plastik, pestisida, dan pupuk cair dikemas dalam botol atau jerigen plastik. Benih disimpan dalam kemasan plastik kedap udara, polybag digunakan untuk pembibitan, dan sistem irigasi modern bergantung pada pipa serta selang plastik.

Bahkan setelah panen, plastik tetap mendominasi dalam proses pengemasan dan distribusi hasil pertanian. Situasi ini semakin kompleks ketika dihadapkan pada fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap disebut “El Nino Godzilla”. Dalam kondisi ini, laju penguapan air dari tanah berlangsung sangat cepat. Mulsa plastik menjadi krusial untuk menjaga sisa kelembapan tanah.

Baca Juga  Hilirisasi Pertanian Lampung Utara Jadi Kunci Ekonomi di Musrenbang 2027

Namun ketika harganya melonjak, petani kecil tidak memiliki banyak pilihan selain membiarkan lahan terbuka. Dampaknya, tanah lebih cepat kering dan retak, kehidupan mikroorganisme terganggu, dan tanaman berisiko layu sebelum masa panen.

Di saat yang sama, El Nino juga menekan ketersediaan air irigasi. Debit air di banyak saluran menyusut drastis, bahkan mengering. Petani pun terpaksa mengandalkan sumber air alternatif dengan bantuan mesin pompa, yang justru membutuhkan selang plastik dalam jumlah besar. Kondisi ini menciptakan lingkaran tekanan. Di mana saat kebutuhan plastik meningkat, harganya justru melonjak.

Dengan kenaikan harga hingga 60 persen, dampaknya tidak lagi terbatas pada satu aspek, melainkan merambat ke seluruh rantai produksi. Petani kecil menjadi pihak yang paling terpukul karena keterbatasan modal dan lemahnya posisi tawar. Pengurangan penggunaan input menjadi pilihan terpaksa, meski berisiko langsung pada penurunan hasil.

Kehadiran Pemerintah Menjadi Mutlak

Namun, di balik tekanan ini tersimpan peluang untuk berbenah. Ketergantungan tinggi terhadap plastik perlu mulai dikurangi melalui pemanfaatan mulsa organik serta inovasi budidaya yang lebih efisien.

Baca Juga  Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya

Di sisi lain, penguatan sistem irigasi dan penerapan teknologi hemat air—termasuk konsep smart farming—menjadi langkah strategis untuk menghadapi perubahan iklim.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran negara menjadi sangat penting. Kebijakan yang responsif, mulai dari subsidi sarana produksi, dukungan riset, hingga pembangunan infrastruktur irigasi, harus segera diperkuat. Tanpa langkah konkret, petani akan terus berada dalam posisi rentan terhadap gejolak global.

Pada akhirnya, lonjakan harga plastik, dampak konflik internasional, dan tekanan El Nino adalah pengingat bahwa pertanian tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan dinamika global. Ketahanan sektor ini hanya dapat dibangun melalui adaptasi, inovasi, dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada petani.(*)

Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)
Penulis: Ir.Fahuri Wherlian Ali KM, SP, MM (Ketua Harian Ikaperta Unila)

Berita Terkait

Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
Tumbal Angka di Tanah Surplus
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?
Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG
Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?
Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya
Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana
Konflik Global Mengancam, Petani Jagung Lampung Hadapi Risiko Kelangkaan Pupuk

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 10:21 WIB

Plastik, Godzilla dan Pertanian

Rabu, 8 April 2026 - 17:24 WIB

Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate

Senin, 6 April 2026 - 17:04 WIB

Tumbal Angka di Tanah Surplus

Senin, 6 April 2026 - 15:05 WIB

“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Jumat, 3 April 2026 - 13:28 WIB

Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG

Berita Terbaru

Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Restuardy Daud, menyebut perlunya penggerak ekonomi lokal untuk memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan PAD.(foto: Antara)

Koperasi/UMKM

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Motor Ekonomi Baru di Lampung

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:08 WIB

Antisipasi kenaikan harga plastik global melalui pengalihan penggunaan mulsa organik, lalu inovasi smart farming, dan penguatan subsidi dari pemerintah.(ilustrasi: Kitani)

Saung Opini

Plastik, Godzilla dan Pertanian

Selasa, 14 Apr 2026 - 10:21 WIB

Ilustrasi padi unggul di Tulang Bawang, Lampung. (Foto: ist)

Agropedia

Bibit Padi Unggul di Tulang Bawang, Produksi 12 Ton per Hektare

Senin, 13 Apr 2026 - 17:16 WIB

Bertani hortikultura bisa menjadi alternatif mendongkrak kesejahteraan petani padi di Lampung. (Foto: Kitani.id)

Sosok

Menengok Pontang-panting Petani Gurem di Lampung

Senin, 13 Apr 2026 - 11:20 WIB