(Kitani.id): Kenaikan harga plastik kini menjadi pukulan nyata bagi sektor pertanian. Dalam waktu singkat, harga berbagai produk plastik, hari ini selang hitam ukuran 3 inci, melonjak hingga sekitar 60 persen. Kenaikan tajam ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, terutama konflik Iran Vs Amerika Serikat yang mengganggu pasokan minyak dunia sebagai bahan baku utama plastik.
Selama ini, plastik telah menjelma menjadi fondasi penting dalam praktik pertanian modern. Mulsa plastik, misalnya, digunakan secara luas pada komoditas hortikultura seperti cabai dan semangka, karena kemampuannya menjaga kelembapan tanah dan menekan pertumbuhan gulma. Dalam budidaya cabai, kebutuhan mulsa bisa mencapai sekitar 15 roll per hektar, atau setara dengan 180–200 kilogram.
Jika melihat skala nasional, luas panen cabai yang menembus lebih dari 140 ribu hektar menunjukkan besarnya konsumsi plastik di sektor ini. Dengan asumsi sebagian besar lahan menggunakan mulsa, kebutuhan untuk cabai saja dapat mencapai 25–28 ribu ton per tahun.
Sementara pada semangka, yang juga sangat bergantung pada mulsa plastik, kebutuhan nasional diperkirakan berada di kisaran 5–10 ribu ton per tahun. Artinya, dua komoditas ini saja sudah menyumbang konsumsi lebih dari 30 ribu ton mulsa plastik setiap tahun.
Kebutuhan Pasca Panen
Ketergantungan terhadap plastik tidak berhenti pada mulsa. Pupuk padatan umumnya menggunakan karung plastik, pestisida, dan pupuk cair dikemas dalam botol atau jerigen plastik. Benih disimpan dalam kemasan plastik kedap udara, polybag digunakan untuk pembibitan, dan sistem irigasi modern bergantung pada pipa serta selang plastik.
Bahkan setelah panen, plastik tetap mendominasi dalam proses pengemasan dan distribusi hasil pertanian. Situasi ini semakin kompleks ketika dihadapkan pada fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap disebut “El Nino Godzilla”. Dalam kondisi ini, laju penguapan air dari tanah berlangsung sangat cepat. Mulsa plastik menjadi krusial untuk menjaga sisa kelembapan tanah.
Namun ketika harganya melonjak, petani kecil tidak memiliki banyak pilihan selain membiarkan lahan terbuka. Dampaknya, tanah lebih cepat kering dan retak, kehidupan mikroorganisme terganggu, dan tanaman berisiko layu sebelum masa panen.
Di saat yang sama, El Nino juga menekan ketersediaan air irigasi. Debit air di banyak saluran menyusut drastis, bahkan mengering. Petani pun terpaksa mengandalkan sumber air alternatif dengan bantuan mesin pompa, yang justru membutuhkan selang plastik dalam jumlah besar. Kondisi ini menciptakan lingkaran tekanan. Di mana saat kebutuhan plastik meningkat, harganya justru melonjak.
Dengan kenaikan harga hingga 60 persen, dampaknya tidak lagi terbatas pada satu aspek, melainkan merambat ke seluruh rantai produksi. Petani kecil menjadi pihak yang paling terpukul karena keterbatasan modal dan lemahnya posisi tawar. Pengurangan penggunaan input menjadi pilihan terpaksa, meski berisiko langsung pada penurunan hasil.
Kehadiran Pemerintah Menjadi Mutlak
Namun, di balik tekanan ini tersimpan peluang untuk berbenah. Ketergantungan tinggi terhadap plastik perlu mulai dikurangi melalui pemanfaatan mulsa organik serta inovasi budidaya yang lebih efisien.
Di sisi lain, penguatan sistem irigasi dan penerapan teknologi hemat air—termasuk konsep smart farming—menjadi langkah strategis untuk menghadapi perubahan iklim.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran negara menjadi sangat penting. Kebijakan yang responsif, mulai dari subsidi sarana produksi, dukungan riset, hingga pembangunan infrastruktur irigasi, harus segera diperkuat. Tanpa langkah konkret, petani akan terus berada dalam posisi rentan terhadap gejolak global.
Pada akhirnya, lonjakan harga plastik, dampak konflik internasional, dan tekanan El Nino adalah pengingat bahwa pertanian tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan dinamika global. Ketahanan sektor ini hanya dapat dibangun melalui adaptasi, inovasi, dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada petani.(*)









