Daya Beli Petani Lampung Melemah Empat Bulan Berturut-turut

Senin, 4 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perlunya pemantauan beban biaya produksi dan kenaikan harga konsumsi rumah tangga petani.(Ilustrasi: Kitani)

Perlunya pemantauan beban biaya produksi dan kenaikan harga konsumsi rumah tangga petani.(Ilustrasi: Kitani)

(Kitani.id): Petani di Provinsi Lampung sedang menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya tekanan pada daya tukar petani lokal. Kondisi ini terlihat dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus merosot.

Tren negatif ini sudah terjadi selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026. Penurunan tersebut menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat tani di Lampung.

Pada Januari 2026, posisi NTP masih berada di level 128,17 poin. Namun, angka tersebut terus tergerus hingga menyentuh level 123,93 pada April ini. Artinya, kesejahteraan petani terus mengalami kontraksi di tengah fluktuasi harga pasar.

Baca Juga  Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional

“Tekanan datang dari sisi penerimaan yang melemah bagi petani,” ujar Sabiel Adi Prakasa, Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, Senin (4 Mei 2026).

Beban Biaya Produksi dan Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

Kondisi sulit ini dipicu oleh ketimpangan antara pendapatan dan biaya pengeluaran. Indeks harga yang diterima petani turun sekitar 0,49 persen.

Baca Juga  Usai Swasembada Pangan, Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun Mendatang

Sebaliknya, indeks harga yang harus dibayar petani justru naik 0,31 persen. Petani harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk biaya produksi dan kebutuhan hidup.

Kenaikan biaya transportasi sebesar 0,41 persen turut memperparah keadaan ekonomi di desa. Hal ini membuat indeks konsumsi rumah tangga petani ikut merangkak naik.

Akibatnya, ruang belanja untuk kebutuhan pokok keluarga petani menjadi semakin sempit. Beban hidup yang meningkat tidak sebanding dengan hasil penjualan panen.

Baca Juga  Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional

Sektor peternakan dan perikanan budidaya bahkan mencatatkan angka di bawah 100 poin. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga turun menjadi 129,21. Penurunan margin usaha ini memperkuat sinyal kelesuan pada sektor pertanian Lampung saat ini.(*)

Berita Terkait

Usai Swasembada Pangan, Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun Mendatang
Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional
Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional
Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras
Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG
Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung
Sinergi Ketahanan Pangan Lampung Perkuat Infrastruktur Pascapanen di Desa
ISPI Diminta Manfaatkan Potensi Besar Sektor Peternakan Lampung

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:26 WIB

Usai Swasembada Pangan, Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun Mendatang

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:14 WIB

Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Berita Terbaru

Menggenjot serapan menu ayam dan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta mendesak kepatuhan terhadap regulasi harga.(Foto: ist)

Peternakan

Stabilisasi Harga Ayam Broiler Lewat Menu Makan Bergizi Gratis

Kamis, 11 Jun 2026 - 16:38 WIB