(Kitani.id): Petani di Provinsi Lampung sedang menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya tekanan pada daya tukar petani lokal. Kondisi ini terlihat dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) yang terus merosot.
Tren negatif ini sudah terjadi selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026. Penurunan tersebut menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat tani di Lampung.
Pada Januari 2026, posisi NTP masih berada di level 128,17 poin. Namun, angka tersebut terus tergerus hingga menyentuh level 123,93 pada April ini. Artinya, kesejahteraan petani terus mengalami kontraksi di tengah fluktuasi harga pasar.
“Tekanan datang dari sisi penerimaan yang melemah bagi petani,” ujar Sabiel Adi Prakasa, Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, Senin (4 Mei 2026).
Beban Biaya Produksi dan Konsumsi Rumah Tangga Meningkat
Kondisi sulit ini dipicu oleh ketimpangan antara pendapatan dan biaya pengeluaran. Indeks harga yang diterima petani turun sekitar 0,49 persen.
Sebaliknya, indeks harga yang harus dibayar petani justru naik 0,31 persen. Petani harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk biaya produksi dan kebutuhan hidup.
Kenaikan biaya transportasi sebesar 0,41 persen turut memperparah keadaan ekonomi di desa. Hal ini membuat indeks konsumsi rumah tangga petani ikut merangkak naik.
Akibatnya, ruang belanja untuk kebutuhan pokok keluarga petani menjadi semakin sempit. Beban hidup yang meningkat tidak sebanding dengan hasil penjualan panen.
Sektor peternakan dan perikanan budidaya bahkan mencatatkan angka di bawah 100 poin. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga turun menjadi 129,21. Penurunan margin usaha ini memperkuat sinyal kelesuan pada sektor pertanian Lampung saat ini.(*)








