(Kitani.id): Sektor peternakan nasional sedang menghadapi tantangan besar di tengah meningkatnya ancaman wabah global. Pemerintah terus memperkuat komitmen untuk membangun sistem kesehatan hewan modern yang responsif.
Langkah strategis diambil demi menjaga ketahanan pangan dan melindungi mata pencaharian peternakan rakyat. Kemampuan mengendalikan penyakit secara cepat kini menjadi indikator kekuatan pertanian suatu negara.
Komitmen besar itu disampaikan oleh perwakilan Indonesia dalam Sidang Umum ke-93 WOAH di Paris, Prancis. Forum dunia tersebut menjadi panggung pembuktian kemajuan sistem surveilans berbasis teknologi di tanah air.
Investasi pada sektor ini memiliki dampak nyata yang sangat luas bagi masyarakat. Indonesia pernah merasakan hantaman berat saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak pada 2022–2023. Kala itu, estimasi kerugian ekonomi nasional mencapai 1 hingga 2 miliar dolar AS.
“Nilai utama investasi kesehatan hewan bukan hanya keuntungan finansial. Yang paling penting adalah seberapa cepat kita mendeteksi penyakit dan seberapa efektif kita merespons,” ujar Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa.
Menghubungkan Jaringan Peternak Lewat Aplikasi iSIKHNAS
Pengalaman pahit masa lalu memicu percepatan reformasi sistem kesehatan hewan nasional. Pemerintah kini fokus mengintegrasikan pengawasan, mempercepat vaksinasi, serta meningkatkan kapasitas laboratorium veteriner.
Fondasi utama yang dibangun adalah penguatan sistem data yang terintegrasi secara nasional. Guna mempercepat deteksi dini di lapangan, Indonesia mengandalkan aplikasi iSIKHNAS.
Sistem informasi berbasis daring ini menjadi jembatan komunikasi yang sangat efektif. Platform tersebut menghubungkan peternak, petugas lapangan, laboratorium, hingga jajaran pemerintah daerah.
Melalui jaringan data ini, otoritas terkait bisa memetakan wilayah terdampak dengan akurat. Pola penyebaran penyakit dapat dibaca dengan mudah untuk menentukan prioritas intervensi.
Pendekatan digital tersebut terbukti ampuh dalam mengendalikan PMK, rabies, hingga Avian Influenza.
Langkah penguatan ini mendapat apresiasi dari pakar kesehatan hewan internasional, Mónica Rojas. Menurutnya, tingginya prevalensi penyakit pasti akan melambungkan biaya produksi peternakan. Oleh karena itu, investasi pada pencegahan menjadi kunci utama pemenuhan kebutuhan protein dunia.(*)








