(Kitani.id): Lampung memiliki posisi sangat strategis dalam jalur perdagangan internasional sejak ratusan tahun lalu. Kini, provinsi ini menjadi simpul utama distribusi pangan yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya hilirisasi komoditas dan penguatan kedaulatan pangan di hadapan Peserta Didik Sespimti Polri Dikreg ke-35. Pertemuan ini berlangsung di Kantor Gubernur Lampung, Rabu (15 April 2026).
Potensi pertanian Lampung memang sangat besar dengan luas lahan mencapai 3,3 juta hektare. Namun, Gubernur Mirza mengakui tantangan utama terletak pada rantai distribusi yang belum berpihak kepada petani.
“Dulu harga gabah di tingkat petani sangat rendah, sementara di konsumen tinggi. Ketimpangan ini yang menyebabkan kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.
Meningkatkan Nilai Tambah di Desa
Pemerintah Provinsi Lampung kini bergerak cepat melalui program “Desaku Maju”. Fokus utamanya adalah membawa proses hilirisasi langsung ke tingkat desa agar petani mendapat untung lebih besar.
Salah satu langkah nyata adalah pembangunan fasilitas pengering atau dryer di sentra pertanian. Dengan alat ini, petani tidak lagi terpaksa menjual hasil panen dalam kondisi basah yang berharga murah.
Selain itu, pengembangan pupuk organik berbasis limbah desa juga terus digalakkan. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di Lampung.
Kebijakan nasional yang mendorong kenaikan harga gabah kini mulai membuahkan hasil. Pendapatan petani meningkat signifikan, yang secara otomatis ikut mendongkrak daya beli masyarakat di daerah.
Sinergi Menjaga Ketahanan Nasional
Kunjungan Peserta Didik Sespimti Polri ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan aparat keamanan sangat penting dalam menjaga stabilitas pangan.
Gubernur Mirza menekankan bahwa negara harus hadir lebih kuat dalam mengatur tata niaga. Pemerintah tidak boleh hanya terpaku pada APBD, melainkan harus aktif mengelola sektor riil.
Sektor energi hijau seperti panas bumi dan bioenergi berbasis singkong juga menjadi primadona investasi di Lampung. Seluruh potensi ini disiapkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Negara harus hadir sebagai regulator agar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat luas,” tegas Gubernur Mirza di akhir paparannya.(*)








