Petani Lampung Perlu Manfaatkan Varietas Padi Adaptif Hadapi Kemarau 2026

Kamis, 19 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggunaan benih unggul tahan kekeringan dan percepatan tanam melalui pompanisasi.(Foto: ist)

Penggunaan benih unggul tahan kekeringan dan percepatan tanam melalui pompanisasi.(Foto: ist)

Inti Berita:

Masalah: Prediksi BMKG menyebut musim kemarau 2026 datang lebih awal, mengancam produksi padi akibat kekeringan.

Solusi: Penggunaan benih unggul tahan kekeringan dan percepatan tanam melalui pompanisasi.

Data: Varietas seperti Inpago, Inpari 38-46, hingga Cakrabuana menjadi andalan karena umur panen yang singkat.

(Kitani.id): Kementerian Pertanian kini bergerak cepat mengantisipasi tantangan iklim yang mulai membayangi lahan sawah. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, meminta para petani untuk waspada terhadap datangnya musim kemarau lebih awal.

Langkah pemetaan wilayah rawan kekeringan pun kini menjadi prioritas utama di setiap daerah. Salah satu strategi paling jitu adalah dengan mengubah pola tanam dan jenis benih.

Baca Juga  Percepat Perluasan MBG, Menteri Asal Lampung ke Ponpes Tebuireng

Para petani sangat disarankan untuk segera manfaatkan varietas padi adaptif yang sudah teruji tahan terhadap keterbatasan air. Dengan begitu, risiko gagal panen akibat tanah retak bisa ditekan seminimal mungkin.

Pilihan Benih Unggul Tahan Kering

Ada banyak pilihan varietas yang bisa diandalkan petani saat ini, seperti Inpari 38 hingga Inpari 46. Selain itu, varietas padi gogo kelompok Inpago juga dirancang khusus untuk tetap berproduksi meski air terbatas. Pilihan lain yang tak kalah bagus adalah varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana.

Baca Juga  Perputaran Uang HUT Lampung Timur Tembus Rp10 Miliar

Kepala BRMP Kementan, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa benih-benih ini memiliki umur panen yang relatif sangat singkat. Hal ini memungkinkan tanaman bisa dipanen lebih cepat sebelum puncak kekeringan melanda. Strategi ini sangat penting untuk menjaga stabilitas pangan, terutama di area sawah tadah hujan.

Optimalkan Pompa dan Percepatan Tanam

Selain urusan benih, Kementan juga mendorong optimalisasi pengelolaan air melalui sistem pompanisasi dan perpipaan. Percepatan tanam di berbagai sentra produksi harus segera dilakukan agar siklus produksi tidak terganggu.

Baca Juga  Mitigasi El Nino Lampung Jaga Stabilitas Pangan Nasional

Koordinasi dengan pemerintah daerah pun terus diperkuat untuk memastikan bantuan sarana air sampai ke petani.

Upaya ini adalah bagian dari teknologi untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi nasional.

Dengan teknologi budidaya yang tepat, sektor pertanian diharapkan tetap kokoh di tengah dinamika iklim yang tidak menentu. “Kami mendorong pemanfaatan varietas unggul ini secara lebih luas,” tegas Fadjry Djufry dalam keterangannya, Kamis (19 Maret 2026).(*)

Berita Terkait

Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional
Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional
Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras
Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG
Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung
Sinergi Ketahanan Pangan Lampung Perkuat Infrastruktur Pascapanen di Desa
ISPI Diminta Manfaatkan Potensi Besar Sektor Peternakan Lampung
Ekspor Tapioka Lampung Senilai Rp26 Miliar ke Tiongkok

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:14 WIB

Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:06 WIB

Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Berita Terbaru