(Kitani.id): Kementerian Sosial (Kemensos) tengah menyiapkan terobosan besar untuk memutus rantai kemiskinan di tingkat desa. Lewat kolaborasi strategis, pemerintah resmi menggandeng Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai wadah pemberdayaan masyarakat.
Menariknya, program ini memprioritaskan para penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menjadi tenaga kerja profesional.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa langkah ini merupakan amanat Inpres Nomor 8 Tahun 2025. Pemerintah ingin Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi mampu berdaya secara ekonomi. Selain mendapatkan pekerjaan, mereka juga didorong menjadi anggota koperasi agar bisa menikmati Sisa Hasil Usaha (SHU) setiap tahun.
“Koperasi ini menjadi bagian dari pemberdayaan keluarga penerima manfaat. Salah satunya adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pekerja di Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih,” ujar Gus Ipul di Jakarta, Senin (13 April 2026).
Membuka Jutaan Lapangan Kerja Baru
Sinergi ini bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan sebuah gerakan masif yang menyasar akar rumput. Menteri Koperasi Ferry Juliantono memproyeksikan setiap unit koperasi mampu menyerap sekitar 15 hingga 18 tenaga kerja lokal. Dengan target pembangunan 80 ribu koperasi desa, potensi penyerapan tenaga kerja mencapai angka 1,4 juta orang.
Para penerima PKH akan mengisi berbagai posisi penting mulai dari kasir, pramuniaga, tenaga logistik, hingga pengelola gudang. Syaratnya cukup sederhana, yakni pendidikan minimal SMP dan memiliki kemauan belajar yang kuat.
Kemenkop bersama PT Agrinas Pangan Nusantara juga telah menyiapkan pelatihan berjenjang agar operasional koperasi berjalan profesional.
“Harapannya, setelah menjadi anggota koperasi, mereka bisa mendapatkan sisa hasil usaha yang akan menambah pendapatan. Sehingga mereka bisa segera keluar dari kelompok kemiskinan,” ungkap Ferry.
Distribusi Pangan Murah di Desa
Bagi petani dan warga pedesaan, kehadiran KDMP juga membawa angin segar bagi stabilitas harga. Koperasi ini dirancang fungsional sebagai gudang sekaligus outlet distribusi yang memotong rantai pasar yang panjang.
Hasil panen lokal akan diserap langsung oleh koperasi, sementara barang kebutuhan pokok disalurkan dengan harga yang lebih terjangkau.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Mota, menjelaskan bahwa sistem ini sudah berbasis digital. Setiap arus barang terpantau secara transparan untuk memastikan ketersediaan stok di desa tetap aman.
Melalui pendampingan selama dua tahun, pengelolaan koperasi nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada warga desa setempat.
“Yang terpenting adalah kerja maksimal dan jujur dengan kemampuan yang ada. Kami hadirkan solusi agar program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa,” pungkas Gus Ipul.(*)








