IPB Kembangkan Sorgum dan Gandum Tropika di Lahan Suboptimum

Minggu, 15 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(ilustrasi: Kitani.id)

(ilustrasi: Kitani.id)

Inti Berita:

Masalah: Ketergantungan impor gandum dan luasnya lahan suboptimum yang belum produktif.

Solusi: Pemuliaan tanaman adaptif seperti sorgum dan gandum tropika oleh IPB.

Data: Tersedia 91,1 juta hektare lahan suboptimum sebagai ruang produksi pangan.

(Kitani.id): Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan pertanian produktif. Guru Besar IPB University, Prof Trikoesoemaningtyas menawarkan solusi melalui pemuliaan tanaman. Fokus utamanya adalah memanfaatkan lahan bercekaman abiotik yang sangat luas.

Prof Trikoesoemaningtyas menyampaikan hal ini dalam orasi ilmiah, Sabtu (14/2) seperti dirilis IPB University. Menurutnya, Indonesia memiliki 91,1 juta hektare lahan suboptimum. Luasan tersebut merupakan bagian dari total 189,1 juta hektare daratan.

Baca Juga  Tokoh Penggerak Ekonomi Agrikultur, Gubernur Mirza Raih KWP Award 2026

“Inilah ruang masa depan produksi pangan kita,” jelas Prof Trikoesoemaningtyas tegas. Oleh karena itu, perbaikan adaptasi tanaman menjadi kunci utama produktivitas.

Strategi Pemuliaan Sorgum untuk Pangan Lokal

Selanjutnya, sorgum menjadi komoditas unggulan untuk mengatasi masalah ketergantungan gandum. Tanaman ini memiliki kandungan protein 11 persen yang mendekati kualitas gandum.

Selain itu, sorgum bersifat bebas gluten sehingga sangat sehat dikonsumsi. Tanaman ini juga sangat tangguh tumbuh di tanah masam yang ekstrem.

Baca Juga  Antisipasi El Nino Lampung Siapkan 1.222 Irigasi Perpompaan

Kemudian, sorgum berpotensi besar sebagai sumber bioetanol dan juga biomassa energi. “Sorgum dapat dengan mudah diproses menjadi tepung yang sangat kompetitif,” terangnya.

Keunggulannya adalah mampu mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupuk kimia. Hal ini tentu sangat membantu efisiensi biaya produksi bagi para petani.

Inovasi Gandum Tropika dan Ketahanan Pangan

Sementara itu, IPB juga berhasil mengembangkan varietas gandum tropika yang adaptif. Dua varietas unggulannya adalah Guri-7-Agritan dan juga varietas Guri-8-Agritan.

Baca Juga  Dian Sastro Terobsesi Berkebun Cari Ketenangan di Desa

Keduanya mampu tumbuh baik di dataran menengah dengan ketinggian tertentu. Langkah ini bertujuan menekan angka impor gandum yang sangat tinggi.

Lebih lanjut, program pemuliaan ini mengedepankan pilar ketahanan dan keberlanjutan. Varietas hasil riset harus mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh petani di Indonesia.

Prof Trikoesoemaningtyas berharap pemerintah segera memperluas produksi di lahan-lahan suboptimum. “Kebutuhan varietas adaptif akan terus meningkat demi stabilitas pangan nasional,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait

Bibit Padi Unggul di Tulang Bawang, Produksi 12 Ton per Hektare
Jangan Terkecoh Tampilan Bersih! Ini Ciri Ikan Asin Bebas Formalin
Khasiat Gambir, Emas Hijau Nusantara yang Digandrungi Dunia
Indigofera dan Jalan Baru Ketahanan Pakan di Lampung
Buah Nyamplung, Potensi Bahan Bakar Nabati dari Hutan
Manfaatkan Bungkil Inti Sawit, Peternak Lampung Bisa Hemat Biaya Pakan
Hemat Pakan, BRIN Olah Limbah Kulit Reptil Jadi Pakan Ikan Berkualitas
Urban Farming, Solusi Pangan di Tengah Hiruk Pikuk Lampung

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 17:16 WIB

Bibit Padi Unggul di Tulang Bawang, Produksi 12 Ton per Hektare

Selasa, 7 April 2026 - 17:24 WIB

Jangan Terkecoh Tampilan Bersih! Ini Ciri Ikan Asin Bebas Formalin

Senin, 30 Maret 2026 - 13:38 WIB

Khasiat Gambir, Emas Hijau Nusantara yang Digandrungi Dunia

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:21 WIB

Indigofera dan Jalan Baru Ketahanan Pakan di Lampung

Jumat, 13 Maret 2026 - 02:36 WIB

Buah Nyamplung, Potensi Bahan Bakar Nabati dari Hutan

Berita Terbaru