(Kitani.id): Pemerintah Provinsi Lampung fokus memperkuat struktur ekonomi daerah. Langkah utamanya adalah mendorong hilirisasi komoditas strategisuntuk menciptakan nilai tambah bagi produk lokal.
Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan ketahanan ekonomi masyarakat Bumi Ruwa Jurai. Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menegaskan komitmen tersebut saat menjadi keynote speaker dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Semester I 2026 yang digelar Bank Indonesia di Marriott Resort, Pesawaran, Selasa (28 April 2026).
Saat ini, kondisi ekonomi Lampung menunjukkan tren yang sangat positif. Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 bahkan menyentuh angka 5,28 persen, melampaui rata-rata nasional.
Meskipun angka kemiskinan dan pengangguran terus menurun, Lampung tidak boleh cepat berpuas diri. Ketergantungan pada penjualan bahan mentah harus segera diakhiri. Sektor pertanian wajib bertransformasi menjadi motor penggerak industri olahan yang lebih modern.
Program Desaku Maju Perkuat Ekonomi Desa
Salah satu tantangan besar adalah hilangnya potensi pendapatan karena produk dijual dalam bentuk setengah jadi.
Untuk mengatasinya, Pemprov Lampung meluncurkan program unggulan Desaku Maju. Program ini membangun ekosistem ekonomi desa yang kuat dari hulu hingga ke hilir.
Pemerintah memberikan dukungan nyata berupa penyediaan pupuk hayati cair dan bantuan alat pengering (dryer) pertanian. Selain itu, pembangunan jalan desa terus dikebut untuk memperlancar distribusi hasil bumi.
Penguatan SDM melalui pendidikan vokasi juga menjadi prioritas dalam mendukung hilirisasi komoditas strategis.
“Kalau ekonomi Lampung ingin tumbuh kuat, maka desa harus tumbuh,” ujar Marindo. Ia ingin setiap nilai tambah dari hasil olahan pertanian tetap tinggal di desa. Hal ini bertujuan agar para petani lokal bisa merasakan langsung keuntungan ekonomi yang lebih besar.
Salah satu contoh sukses adalah inovasi pengolahan singkong menjadi tepung mocaf di Pringsewu. Kerja sama dengan Bank Indonesia pun terus diperkuat untuk mendampingi model bisnis petani. Lampung optimistis tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pusat pengolahan pangan nasional.(*)








