Inti Berita:
• Masalah: Sekitar Rp70–100 triliun potensi ekonomi keluar dari Lampung dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah bagi petani.
• Solusi: Membangun ekosistem ekonomi inklusif yang menghubungkan sektor pertanian, industri, dan dunia usaha untuk menciptakan nilai tambah.
• Data/Biaya: PDRB Lampung 2024 mencapai Rp483 triliun, namun 26 persen masih bergantung pada bahan mentah sektor pertanian.
(Kitani.id): Pemerintah Provinsi Lampung terus berkomitmen membangun ekonomi daerah yang inklusif dan berdaya saing menuju visi Lampung Maju 2045. Komitmen ini ditegaskan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam acara Coffee Morning di Bandar Lampung, Rabu (28/1/2026).
Gubernur Mirza menekankan pentingnya sinergi agar potensi Lampung bergerak bersama. Selama ini, ekosistem ekonomi dinilai masih berjalan sendiri-sendiri antara petani, industri, dan dunia usaha.
Kondisi inilah yang menyebabkan nilai tambah ekonomi belum optimal dirasakan langsung oleh para petani di lapangan.
Mengejar Potensi Nilai Tambah Komoditas Lokal
Berdasarkan data tahun 2024, PDRB Lampung tercatat sebesar Rp483 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian menyumbang Rp130 triliun, namun baru sekitar 40 persen yang diolah di dalam daerah.
Artinya, ada potensi lebih dari Rp70–100 triliun yang keluar dari Lampung masih dalam bentuk bahan mentah.
“Kita ingin komoditas Lampung seperti kopi, jagung, padi, dan singkong diolah di sini agar memberi nilai tambah bagi petani kita,” tegas Gubernur Mirza.
Penguatan daya saing ini akan dilakukan melalui peningkatan produktivitas petani dan penguatan industri pengolahan. Sebagai solusi nyata untuk mendorong ekonomi inklusif, Pemerintah Provinsi Lampung kini mulai merajut kolaborasi antara dunia usaha dan masyarakat.
Tujuannya jelas, agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat tani di seluruh wilayah Lampung.(*)








