(Kitani.id): Bagi generasi muda yang mudah mengeluh saat bekerja, mungkin bisa bercermin pada kehidupan petani gurem di Lampung yang beras hasil produksinya mungkin pernah kita kunyah di meja makan, namun cerita jatuh-bangun berjibaku di sawah dan keprihatinan mereka menyangga periuk nasi agar tidak gelimpang, nyaris tak pernah mampir di benak kita.
Saat ditemui Kitani, Sujono baru saja kelar menghadiri undangan lamaran salah satu warganya. Dia masih mengenakan peci dan baju batik. “Maaf ini Mas, kita ngobrol di pinggir ladang, tapi baju saya kayak begini. Nggak cocok,” ungkap pria yang sehari-hari berstatus Sekretaris Desa Kutoarjo, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, ini seraya menyunggingkan senyum, Minggu (12 April 2026).
Mengenai predikatnya itu, dia berseloroh, “Walau ngantor ke balai desa tapi saya bukan PNS.” Kendati demikian, ia tetap menjalani tupoksi, bahkan hingga menyita sebagian besar waktunya.
“Tadinya saya juga sempat tanam sayuran kayak bapak-ibu itu,” ucapnya, seraya menunjuk sepasang petani separuh baya yang sedang memanen daun sawi di sebidang lahan tak jauh dari kami.
Namun, aktivitas itu sudah lama dia hentikan. “Sudah nggak ada waktu lagi, Mas. Ya itu karena harus ngantor ke balai desa,” kelakarnya, saat ditanya penyebab tidak melanjutkan usaha tani sayuran.
Padahal, sambung Sujono, “ngurusin” tanaman sayur mayur cukup memberi hasil menjanjikan.
“Bapak-Ibu itu, Mas,” ucapnya, kembali menjadikan pasangan petani sayur sebagai rujukan, “Penghasilannya sekali panen kayak gitu bisa dapet 200 ribuan lebih. Itu pun tinggal bawa sayuran ke Pasar Gading, sudah ada yang nampung di sana. Itu juga baru dari hasil sawi aja, belum dari kangkungnya.”
Penghasilan tersebut, lanjutnya, jauh di atas penghasilan petani sawah. “Kelihatannya aja petani padi tanamannya luas. Padahal hasilnya, tipisss…,” keluh Sujono yang juga masih memiliki lahan tak lebih 1 hektare yang ditanami padi.
Balada Gropyokan Versus Serangan Balik Tikus
Sujono termasuk petani beruntung. Dia masih memiliki lahan sawah dengan luasan 1 hektare dan milik sendiri. Karena menurut sekdes yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Baru dan Gapoktan Makarti Jaya ini, ada banyak rekan taninya yang termasuk petani gurem. Luas lahannya tak lebih seperempat hektare saja.
Lebih mirisnya lagi, masih menurut Sujono, ada lebih banyak lagi petani tapi tidak memiliki lahan. Alhasil, mereka mesti menyewa dan itu tidak murah.
“Sekali musim tanam, sekitar 100 hari, biaya sewa seperempat hektare sekitar Rp2 juta,” ungkapnya.

Kalau kondisi normal dari lahan seperempat hektare itu bisa hasilkan padi 1 ton. Berdasarkan ketentuan, Bulog akan melakukan penyerapan gabah petani dengan harga standar (HPP). Adapun ketentuannya harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp6.500 per kilogram.
“Di sini harga yang petani terima rata-rata Rp6.200 per kilogram,” terang Sujono. Dengan demikian penghasilan dalam satu musim tak lebih Rp6,2 juta untuk luasan lahan seperempat hektare.
Pendapatan itu masih harus dikurangi biaya sewa lahan Rp2 juta, lalu ongkos olah tanah. Kemudian biaya pengadaan bibit dan pupuk dengan nilai minimal Rp1 juta. Total biaya paling minim Rp3 juta.
“Duit yang tersisa dari jual padi itu yang dipakai buat ongkos hidup 3 bulan ke depan, selama masa tanam berikutnya,” kata Sujono, sambil cepat memberi catatan tambahan, “Itu kalau kondisi normal, ya. Sedangkan masa tanam sekarang, banyak kawan-kawan petani di sini yang sedang kena tulah.”
Dia menerangkan, Desa Kutoarjo terbagi dalam 3 wilayah yakni Kutoarjo 1, Kutoarjo 2 dan Kutoarjo 3. Pada awal masa tanam Februari lalu, tanaman padi pada wilayah Kutoarjo 1 dan 2 nyaris hancur lebur. Sawah petani diobrak-abrik serangan tikus.
“Orang-orang di sini masih banyak yang berpandangan bahwa serangan tikus itu sebagai “tulah” karena sebelumnya petani sudah memerangi tikus dengan gropyokan. Sekarang giliran tikusnya yang nyerang balik,” tutur Sujono.
Gropyokan sendiri dikenal sebagai metode tradisional berupa gotong royong membasmi hama tikus sawah. Caranya dengan beramai-ramai memburu tikus hingga ke sarang lubang. “Rumah-rumah” tikus itu dibongkar tuntas. Ada juga yang pakai cara mengasapinya.
Dengan praktik ini diharapkan populasi hama tikus bisa ditekan, bahkan dihilangkan bila memungkinkan. Meski para petani sesungguhnya paham, harapan kedua sangat sulit diwujudkan. Dan itu terbukti dari kejadian serangan balik tikus.
Dampaknya, para petani mesti melakukan penyulaman ulang bibit padi di sawah. “Tapi itu pun harus berkali-kali diulang. Abis, bibit baru ditanam, besok paginya sudah diacak-acak tikus lagi. Pokoknya banyak petani yang prihatin masa tanam ini,” kata Sujono.
Serangan hama tikus dirasakan mulai mengendur, setelah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bekerja sama dengan Dinas Pertanian Pesawaran turun tangan membagikan obat pembasmi.
“Semenjak itu tikusnya nggak nyerang lagi. Tapi nggak tahu juga klo kejadiannya terulang lagi di masa tanam nanti. Mudah-mudahan aja tulah tikus-nya nggak datang lagi,” harap Sujono yang menyebut akibat fenomena itu banyak rekan taninya cuma peroleh gabah 400 kuintal. Padahal sebelumnya rata-rata 1 ton gabah basah per seperempat hektare.
“Sudahlah hasil panen kurang, musim kawinan malah banyak undangan kayak sekarang. Sudah deh, kelar sudah!” gurau Sujono. Alhasil, banyak kawan-kawannya yang kemudian menambal peruntungan dengan menjadi tukang bangunan.
“Ya memang begitu kebanyakan nasib petani di sini,” keluh Sujono seraya melempar pandangan ke ujung ladang di hadapannya. Sambil menerawang entah nasib seperti apa yang akan mereka hadapi disaat ancaman El Nino Godzila terus membayangi. (*)

Sarjana Pertanian yang menggeluti jurnalistik sejak 1999, pemilik suratkabar & portal berita, penulis fiksi & nonfiksi, pegiat literasi digital, Ketua AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) wilayah Lampung.







