Strategi Hilirisasi Riset Hortikultura, BRIN Kunci Target Ketahanan Pangan 2026

Kamis, 2 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsolidasi melalui Rakor dan Monev Triwulan I untuk memastikan riset hortikultura berdampak nyata pada industri dan petani.(Foto: ist)

Konsolidasi melalui Rakor dan Monev Triwulan I untuk memastikan riset hortikultura berdampak nyata pada industri dan petani.(Foto: ist)

(Kitani.id): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat arah strategis riset hortikultura nasional. Langkah ini fokus pada fase konsolidasi melalui Pusat Riset Hortikultura.

Mereka menggelar Rapat Koordinasi dan Monitoring Evaluasi (Rakor dan Monev) Triwulan I Tahun 2026 secara luring. Pertemuan bertujuan memastikan efektivitas sistem kerja peneliti di lapangan.

Selain itu, BRIN ingin mengunci Strategi Hilirisasi Riset Hortikultura agar berdampak langsung bagi masyarakat.

Fokus pada Dampak Nyata dan Kinerja

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh periset. Menurutnya, forum ini sangat penting untuk memperkuat jejaring antarpeneliti.

Baca Juga  Pemkot Bandar Lampung Dorong SPPG Gandeng Kelompok Tani

“Dinamika sistem kerja berbasis homebase membutuhkan disiplin tinggi dan koordinasi yang kuat,” ujar Puji di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Selasa (31 Maret 2026).

Dia juga menyoroti perubahan sistem penilaian kinerja yang lebih progresif. Penilaian tersebut kini terintegrasi dalam Sasaran Kinerja Pegawai (SKP). Fokus utamanya bukan lagi sekadar administrasi, melainkan outcome riset yang bisa dihilirisasi. “Kami mendorong periset memanfaatkan peluang pendanaan, termasuk melalui skema LPDP,” tambahnya.

Baca Juga  Rembuk Tani Lampung dan Kedaulatan Pangan Indonesia

Mendorong Inovasi Berbasis Teknologi AI

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura, Dwinita Wikan Utami, memaparkan capaian positif di awal tahun. Dwinita menegaskan bahwa penguatan kinerja bertumpu pada empat pilar utama. Pilar tersebut adalah SDM, kualitas riset, tata kelola, dan jejaring kolaborasi. “Evaluasi ini penting agar setiap riset berjalan sesuai indikator kinerja,” tegasnya.

Baca Juga  Daya Beli Petani Lampung Melemah Empat Bulan Berturut-turut

Dukungan hilirisasi juga datang dari Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Dr. Van Basten. Ia menekankan pentingnya ekosistem pertanian yang terintegrasi dari petani hingga industri. Van Basten menyarankan penggunaan data agroklimat dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini sangat vital untuk memantau budidaya komoditas strategis seperti cabai dan bawang. “Pendekatan ini mampu memperkuat stabilitas harga dan daya saing produk kita,” ungkapnya.(*)

Berita Terkait

Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional
Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional
Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras
Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG
Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung
Sinergi Ketahanan Pangan Lampung Perkuat Infrastruktur Pascapanen di Desa
ISPI Diminta Manfaatkan Potensi Besar Sektor Peternakan Lampung
Ekspor Tapioka Lampung Senilai Rp26 Miliar ke Tiongkok

Berita Terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:14 WIB

Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:06 WIB

Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Berita Terbaru