Inti Berita:
• Masalah: Konflik berkepanjangan antara gajah liar dan warga di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang menghambat ekonomi desa penyangga.
• Solusi: Pembangunan pembatas (barrier) permanen sepanjang 138 kilometer sebagai instruksi langsung Presiden.
• Data/Biaya: Anggaran sebesar Rp850 miliar dengan target penyelesaian dalam satu tahun.
(Kitani.id): Kabar baik datang bagi warga di sekitar kawasan konservasi Lampung Timur. Pemerintah mulai merealisasikan pembangunan pembatas (barrier) permanen di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sepanjang 138 kilometer. Langkah besar ini menjadi jawaban atas konflik manusia dan satwa liar yang sudah terjadi puluhan tahun di wilayah tersebut.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa proyek ini merupakan solusi jangka panjang yang sangat dinantikan. Awalnya, pemerintah daerah hanya mengusulkan pembangunan sepanjang 11 kilometer.
Namun, Presiden melihat skala masalah yang luas sehingga menambah panjang pembatas secara signifikan agar masalah tuntas sepenuhnya.
“Usulan untuk meminta bantuan kepada pemerintah pusat ini kami lakukan pada November 2025. Karena konflik ini sudah berlangsung lama, Presiden memutuskan menambah panjang pembatas menjadi 138 kilometer,” ujar Gubernur saat mendampingi Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, di Lampung Timur, Kamis (26 Maret 2026).
Prioritas Nasional untuk Petani Lampung
Pembangunan pagar pembatas ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan agenda strategis nasional. Dari puluhan taman nasional di Indonesia, Way Kambas mendapat prioritas utama karena dampaknya yang besar bagi masyarakat lokal.
Dukungan ini diharapkan mampu memulihkan pertumbuhan ekonomi di desa-desa penyangga yang selama ini terhambat akibat risiko serangan satwa.
Menteri Kehutanan, Raja Juli, menyampaikan bahwa pembangunan ini adalah amanah langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Presiden menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara perlindungan nyawa warga dan kelestarian gajah Sumatera yang tersisa sekitar 200 ekor.
“Amanah Presiden jelas, pembangunan pembatas ini menjadi solusi permanen konflik manusia dengan gajah,” ungkap Raja Juli Antoni di sela kunjungan kerjanya.
Selain mengamankan lahan pertanian, proyek senilai Rp850 miliar ini juga akan melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses pengerjaannya.
Transformasi Ekonomi Desa Penyangga
Kehadiran pembatas permanen ini diprediksi akan mengubah wajah ekonomi di Lampung Timur. Petani kini bisa menggarap lahan dengan rasa aman tanpa dihantui gagal panen akibat gangguan gajah liar.
Selain itu, kawasan TNWK juga akan dikembangkan melalui skema pembiayaan konservasi inovatif seperti pasar karbon dan ekowisata.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyambut optimis langkah cepat ini. Menurutnya, masyarakat kini memiliki harapan baru setelah sekian lama merasa was-was tinggal di perbatasan hutan.
Kolaborasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah akan memastikan pembangunan ini berjalan lancar sesuai target satu tahun. Gubernur Mirza pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas ini nantinya.
“Penting juga dukungan dari masyarakat desa penyangga untuk memastikan konservasi satwa tetap terjaga. Kita ingin Way Kambas menjadi taman nasional terbaik di Indonesia,” tegas Gubernur Mirza menutup pembicaraannya.(*)








