Hutan Menyempit, Harimau Sumatra di Lampung Terancam Punah

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Populasi harimau sumatra terus menurun akibat hilangnya habitat alami dan berkurangnya satwa mangsa seperti rusa. (Foto: ist)

Populasi harimau sumatra terus menurun akibat hilangnya habitat alami dan berkurangnya satwa mangsa seperti rusa. (Foto: ist)

Inti Berita

Masalah: Populasi harimau sumatra terus menurun akibat hilangnya habitat alami dan berkurangnya satwa mangsa seperti rusa.

Solusi: Menjaga kelestarian hutan, menghentikan perdagangan satwa, dan memastikan ketersediaan pakan alami di hutan.

Data: Konflik meningkat karena harimau kehilangan ruang hidup, yang memaksa predator ini mendekati pemukiman warga untuk mencari makan.

(Kitani.id): Pulau Sumatra kini menjadi benteng terakhir bagi harimau sumatra. Sayangnya, kondisi predator puncak ini sedang tidak baik-baik saja.

Penyempitan hutan dan hilangnya hewan buruan membuat populasinya terus merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Kenyataan pahit ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Ani Mardiastuti. Menurut dia, hilangnya habitat asli dan populasi rusa yang menipis menjadi ancaman paling serius saat ini.

Baca Juga  PTPN Siapkan Lahan Bioetanol Berbasis Singkong di Lampung

“Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit,” ujar Ani seperti dilansir website IPB University.

Mangsa Hilang Memicu Konflik dengan Warga

Kondisi hutan yang semakin gundul membuat rantai makanan terputus. Ketika rusa sebagai mangsa utama sulit ditemukan, harimau terpaksa keluar hutan dan mendekati pemukiman manusia. Hal inilah yang sering memicu konflik karena ternak warga sering menjadi sasaran.

Baca Juga  Memanen Air Hujan, Solusi Atasi Banjir dengan Sumur Resapan dan Biopotri

Ani menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya tidak memusuhi harimau. Namun, rasa takut muncul saat keselamatan nyawa dan harta benda mereka terancam. Dilema antara perlindungan satwa dan keselamatan manusia ini menjadi tantangan besar di lapangan.

Apalagi, perubahan lanskap hutan di Sumatra terjadi sangat masif untuk kebutuhan pembangunan. Akibatnya, ruang gerak sang raja hutan semakin terjepit.

Banyak harimau yang akhirnya harus ditangkap atau dipindahkan setelah terlibat konflik, yang justru mempercepat penurunan jumlah mereka di alam liar.

Keseimbangan Alam Lampung Taruhannya

Sebagai apex predator, peran harimau sangat krusial untuk menjaga stabilitas hutan. Jika harimau punah, populasi hewan pemakan tumbuhan akan meledak dan merusak regenerasi pohon-pohon hutan. Dampak kerusakan ini mungkin baru terasa puluhan tahun kemudian, namun kerugiannya bersifat permanen.

Baca Juga  Kelompok Telur Penggerek Batang Jadi Sasaran Gerakan Nasional Kementan

Oleh karena itu, upaya konservasi harus dilakukan sekarang sebelum terlambat. Menjaga habitat tersisa, seperti di kawasan hutan Lindung di Lampung, menjadi kunci utama. Masyarakat juga diajak untuk tegas menolak perdagangan bagian tubuh satwa liar.

“Sebelum terlambat, cobalah kita selamatkan. Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” pungkas Ani. (*)

Berita Terkait

Jaga Keseimbangan Alam, 942 Burung Hasil Sitaan Kembali ke Hutan
Strategi Mitigasi Karhutla 2026, Ancaman Kemarau Panjang Menanti
Kemenhut Dorong Pertanian Berbasis Artificial Intelligence untuk Percepat Swasembada Pangan
Perkuat Kesejahteraan Petani Hutan, Wagub Jihan Nurlela Dorong Penguatan Kolaborasi Lintas Sektor
Investasi Karbon di Taman Nasional Indonesia
Solusi Permanen Konflik Gajah TNWK, Pagar Pembatas 138 Kilometer Mulai Dibangun
Wamen LHK Rohmat Marzuki Ajak Rimbawan Perkuat Ekonomi Hijau di Bulan Ramadan
Hari Bakti Rimbawan, Momentum Perkuat Jati Diri Penjaga Hutan

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 23:20 WIB

Jaga Keseimbangan Alam, 942 Burung Hasil Sitaan Kembali ke Hutan

Rabu, 8 April 2026 - 23:24 WIB

Strategi Mitigasi Karhutla 2026, Ancaman Kemarau Panjang Menanti

Sabtu, 4 April 2026 - 23:58 WIB

Kemenhut Dorong Pertanian Berbasis Artificial Intelligence untuk Percepat Swasembada Pangan

Sabtu, 4 April 2026 - 16:13 WIB

Perkuat Kesejahteraan Petani Hutan, Wagub Jihan Nurlela Dorong Penguatan Kolaborasi Lintas Sektor

Selasa, 31 Maret 2026 - 20:56 WIB

Investasi Karbon di Taman Nasional Indonesia

Berita Terbaru