Gandeng Ilmuwan dan Peneliti, Kementan Pastikan Teknologi Pertanian Masuk ke Lahan Petani

Kamis, 12 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sinergi antara Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN untuk memastikan inovasi riset menjadi kebijakan nyata dan produk komersial.(Foto: ist)

Sinergi antara Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN untuk memastikan inovasi riset menjadi kebijakan nyata dan produk komersial.(Foto: ist)

Inti Berita:

Masalah: Banyak hasil riset pertanian hanya berhenti di atas kertas dan tidak sampai ke tangan petani atau industri.

Solusi: Sinergi antara Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN untuk memastikan inovasi riset menjadi kebijakan nyata dan produk komersial.

Data: Kolaborasi melibatkan 18 perguruan tinggi dan memanfaatkan 188 paten pangan milik BRIN untuk mendukung swasembada.

(Kitani.id): Sektor pertanian Indonesia kini memasuki babak baru yang lebih modern. Kementerian Pertanian resmi menggandeng para akademisi dan peneliti dari BRIN serta berbagai perguruan tinggi untuk memastikan teknologi terbaru tidak hanya tersimpan di laboratorium, tapi benar-benar bisa digunakan oleh petani di lahan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemajuan pangan mustahil dicapai tanpa adanya sentuhan inovasi. Kerja sama ini bertujuan agar setiap temuan ilmiah dari kampus bisa ditarik menjadi kebijakan pemerintah atau masuk ke dunia industri agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat luas.

Baca Juga  Dukungan Strategis Petani Kopi, Kementan Fokus Benih Unggul dan Sertifikasi Ekspor

“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” ujar Amran usai menandatangani kesepakatan di Jakarta, Kamis (12 Maret 2026).

Fokus pada Komoditas Strategis dan Alat Mesin Pertanian

Kesepakatan besar ini mencakup koordinasi riset untuk berbagai komoditas yang sangat akrab dengan petani di Lampung, seperti padi, jagung, kelapa, kopi, hingga kakao.

Baca Juga  Petani Lampung Selatan Mulai Go Digital, Urus Sawah Kini Cukup Lewat HP

Tidak hanya soal benih, kerja sama ini juga menyasar pengembangan alat mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta teknologi pengolahan pascapanen agar nilai jual produk petani semakin tinggi.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengungkapkan tantangan besar yang selama ini dihadapi dunia akademik adalah sulitnya menembus pasar komersial. Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi di seluruh Indonesia akan dikonsolidasikan untuk fokus pada riset yang mendukung kemandirian pangan nasional.

“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi sangat penting,” jelas Brian.

Baca Juga  Teknologi AWD Lewat Pipa Paralon, Solusi Hemat Air Sawah Hingga 20 Persen

Memperkuat Pertanian Modern dari Hulu ke Hilir

Senada dengan hal tersebut, Kepala BRIN Arif Satria memandang sektor pertanian sebagai fondasi peradaban bangsa yang harus diperkuat dengan teknologi. Saat ini, BRIN sudah mengantongi 188 paten di bidang pangan yang siap digunakan oleh industri untuk mempercepat proses hilirisasi.

Sinergi yang melibatkan 18 perguruan tinggi ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian. Dengan pertukaran data yang lebih cepat dan pemanfaatan fasilitas riset bersama, pemerintah optimis kemandirian pangan dan daya saing komoditas Indonesia di pasar global akan meningkat pesat. (*)

Berita Terkait

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras
Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG
Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung
Sinergi Ketahanan Pangan Lampung Perkuat Infrastruktur Pascapanen di Desa
ISPI Diminta Manfaatkan Potensi Besar Sektor Peternakan Lampung
Ekspor Tapioka Lampung Senilai Rp26 Miliar ke Tiongkok
Daya Beli Petani Lampung Melemah Empat Bulan Berturut-turut
Kebijakan Presiden Turunkan Harga Pupuk Jaga Ketahanan Pangan Nasional

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Senin, 11 Mei 2026 - 08:58 WIB

ISPI Diminta Manfaatkan Potensi Besar Sektor Peternakan Lampung

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:42 WIB

Ekspor Tapioka Lampung Senilai Rp26 Miliar ke Tiongkok

Berita Terbaru

sistem kesehatan hewan modern. (Ilustrasi: Kitani)

Peternakan

Kementan Perkuat Sistem Kesehatan Hewan Modern Berbasis iSIKHNAS

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:25 WIB

Harga ayam ras hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak anjlok hingga sekitar 8% di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). (Ilustrasi: Kitani)

Dinamika

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Lampung (tengah) bersama PPL Provinsi Lampung. (Foto: Kitani)

Dinamika

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Penyaluran KUR di Lampung mencapai Rp3,59 triliun hingga pertengahan Mei 2026. (Ilustrasi: ist)

Dinamika

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB