Membenahi Rantai Pasok Kakao Nasional untuk Tekan Impor

Senin, 23 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penguatan rantai pasok kakao melalui agregasi petani, perbaikan sistem pascapanen, dan integrasi logistik dari hulu ke hilir.

Penguatan rantai pasok kakao melalui agregasi petani, perbaikan sistem pascapanen, dan integrasi logistik dari hulu ke hilir.

Inti Berita:

Masalah: Indonesia mengimpor bahan baku cokelat senilai Rp18,7 triliun per tahun karena industri sulit mendapatkan pasokan domestik yang stabil dan berkualitas.

Solusi: Penguatan rantai pasok melalui agregasi petani, perbaikan sistem pascapanen, dan integrasi logistik dari hulu ke hilir.

Data: Impor mencapai USD 1,1 miliar, sementara utilisasi pabrik pengolahan dalam negeri baru menyentuh angka 50-60 persen.

(Kitani.id): Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian serius pada fenomena tingginya angka impor kakao di tanah air. Padahal, Indonesia menyandang status sebagai salah satu produsen utama cokelat dunia.

Ironisnya, nilai belanja bahan baku dari luar negeri ini menembus angka USD 1,1 miliar atau setara Rp18,7 triliun setiap tahunnya. Kenyataan tersebut menjadi tamparan keras mengingat potensi produksi lokal mampu mencapai 600 ribu ton.

Baca Juga  Harga TBS Sawit Lampung Periode I Maret Naik Menjadi Rp3.194

Namun, industri pengolahan kita justru lebih memilih mendatangkan barang impor. Hal ini terjadi karena mereka membutuhkan kepastian volume dan standar kualitas yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh petani lokal.

Paradoks Industri dan Tantangan Logistik

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menyebut situasi ini sebagai sebuah paradoks industri nasional.

Menurut dia, akar masalahnya bukan sekadar jumlah produksi, melainkan sistem logistik yang belum terhubung dengan baik. “Produksi yang didominasi petani kecil menyebabkan pasokan tersebar dan kualitas tidak seragam. Sehingga sulit memenuhi kebutuhan industri dalam skala besar,” ungkap Setijadi, Senin (23 Maret 2026).

Baca Juga  Ekspor Sawit Indonesia 2025 Melonjak 6 Juta Ton

Akibatnya, pabrik pengolahan cokelat di dalam negeri tidak bekerja maksimal. Dari total kapasitas 739 ribu ton, realisasinya hanya sekitar 422 ribu ton saja. Selain itu, biaya pengiriman domestik seringkali jauh lebih mahal dibandingkan biaya mendatangkan barang dari luar negeri.

Strategi Memperkuat Rantai Pasok Kakao

Perbaikan sistem distribusi dan pascapanen menjadi harga mati untuk menyelamatkan devisa negara. Jika kita mampu menekan ketergantungan impor hingga 50 persen, Indonesia berpotensi menghemat anggaran hingga USD 550 juta.

Baca Juga  Imam Khanafi Inspirasi Petani Sukses di Kota Metro

Oleh karena itu, SCI menyarankan adanya langkah strategis berupa pembangunan klaster industri di dekat pusat perkebunan. Pola kemitraan seperti contract farming juga harus diperkuat agar petani memiliki kepastian pembeli (offtaker).

Kemudian, standarisasi pada proses fermentasi dan pengeringan harus ditingkatkan agar produk petani sesuai kebutuhan pabrik. Melalui sinergi antar kementerian dan pemanfaatan teknologi digital, rantai pasok kakao nasional diharapkan menjadi lebih efisien dan kompetitif di masa depan. (*)

Berita Terkait

Hilirisasi Sektor Perkebunan Perkuat Kemandirian Energi Nasional
Ekspor Sawit Indonesia 2025 Melonjak 6 Juta Ton
Hilirisasi Kelapa, Kelapa Sawit (CPO), dan Gambir Jadi Kunci Ekonomi Nasional
Dukungan Strategis Petani Kopi, Kementan Fokus Benih Unggul dan Sertifikasi Ekspor
Harga TBS Sawit Lampung Periode I Maret Naik Menjadi Rp3.194
Hilirisasi Perkebunan, Strategi Kementan Dongkrak Nilai Tambah Tujuh Komoditas Unggulan
Abdul Roni Angkat: Pacu Hilirisasi Perkebunan Lewat Penguatan Ekosistem Hulu-Hilir
Tren Harga Kakao Dunia Meningkat

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 19:27 WIB

Hilirisasi Sektor Perkebunan Perkuat Kemandirian Energi Nasional

Selasa, 31 Maret 2026 - 12:15 WIB

Ekspor Sawit Indonesia 2025 Melonjak 6 Juta Ton

Senin, 30 Maret 2026 - 08:05 WIB

Hilirisasi Kelapa, Kelapa Sawit (CPO), dan Gambir Jadi Kunci Ekonomi Nasional

Sabtu, 28 Maret 2026 - 20:05 WIB

Dukungan Strategis Petani Kopi, Kementan Fokus Benih Unggul dan Sertifikasi Ekspor

Jumat, 27 Maret 2026 - 19:59 WIB

Harga TBS Sawit Lampung Periode I Maret Naik Menjadi Rp3.194

Berita Terbaru

sistem kesehatan hewan modern. (Ilustrasi: Kitani)

Peternakan

Kementan Perkuat Sistem Kesehatan Hewan Modern Berbasis iSIKHNAS

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:25 WIB

Harga ayam ras hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak anjlok hingga sekitar 8% di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). (Ilustrasi: Kitani)

Dinamika

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Lampung (tengah) bersama PPL Provinsi Lampung. (Foto: Kitani)

Dinamika

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Penyaluran KUR di Lampung mencapai Rp3,59 triliun hingga pertengahan Mei 2026. (Ilustrasi: ist)

Dinamika

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB