Inti Berita:
• Masalah: Persoalan sampah rumah tangga yang kian meresahkan dan mengancam lingkungan masa depan.
• Solusi: Pengolahan sampah dari hulu (keluarga) menggunakan bantuan bakteri serta kampanye Green Hajj melalui wakaf pohon produktif.
• Data: Generasi Z dan milenial kini mendominasi sekitar 25 persen pendaftar haji Indonesia, menjadikannya target utama sosialisasi kesadaran lingkungan.
(Kitani.id): Masalah sampah bukan lagi sekadar kotoran di sudut jalan, melainkan ancaman nyata bagi masa depan umat manusia. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, menegaskan bahwa solusi terbaik menghadapi persoalan ini harus dimulai dari titik paling awal, yaitu keluarga.
Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (14 Maret 2026), Anwar Abbas mengajak setiap rumah tangga untuk mulai mandiri mengolah limbahnya sendiri. Salah satu cara sederhana yang ditawarkan adalah mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos dengan bantuan bakteri.
“Masalah sampah sangat meresahkan. Kalau kita berbicara dari hulu, maka itu berarti dari rumah tangga. Bagaimana sampah itu bisa diolah dengan bantuan bakteri sehingga bisa menjadi kompos,” ujarnya.
Ibadah Haji yang Peduli Lingkungan
Semangat menjaga bumi ini kini diselaraskan dengan ibadah haji melalui program Green Hajj. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Haji (BPKH) dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah.
Anggota BP BPKH, Harry Alexander, menjelaskan bahwa Green Hajj bertujuan membangun kesadaran jemaah agar ibadah yang mereka jalankan juga membawa dampak positif bagi alam. Nantinya, sebuah buku panduan praktis akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris sebagai referensi muslim dunia.
Menariknya, panduan ini juga memuat gerakan wakaf pohon produktif. Langkah ini sangat relevan bagi masyarakat pedesaan karena pohon yang ditanam tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Manfaat Ekonomi dan Biodiversitas
Konsep wakaf pohon ini tidak main-main. Sebagai contoh, penanaman komoditas tertentu di lahan luas bisa menghasilkan pendapatan rutin bulanan bagi masyarakat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
“Misalnya kita memiliki lahan yang ditanami kelapa, maka setiap bulan bisa menghasilkan pendapatan jutaan rupiah. Selain manfaat ekonomi, kita juga mendapatkan manfaat biodiversitas,” tambah Harry.
Program ini diharapkan mampu menyentuh kesadaran generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z. Mengingat mereka mencakup seperempat dari total pendaftar haji di Indonesia, peran anak muda sangat krusial untuk memastikan ekosistem bumi tetap terjaga melalui kebiasaan kecil dari rumah dan ibadah yang ramah lingkungan.(*)








