Strategi BRIN Tingkatkan Panen Sayur, Inovasi Pupuk Hayati Hemat Biaya

Sabtu, 28 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BRIN dorong penggunaan pupuk hayati spesifik lokasi berbasis mikroba lokal untuk meningkatkan efisiensi pemupukan. (ilustrasi: Kitani.id)

BRIN dorong penggunaan pupuk hayati spesifik lokasi berbasis mikroba lokal untuk meningkatkan efisiensi pemupukan. (ilustrasi: Kitani.id)

Inti Berita:

Masalah: Alih fungsi lahan dan rendahnya ketersediaan hara (fosfor) di tanah dataran tinggi menghambat produktivitas sayuran nasional.

Solusi: BRIN dorong penggunaan pupuk hayati spesifik lokasi berbasis mikroba lokal untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.

Data/Biaya: Penggunaan pupuk hayati mampu menekan pemakaian pupuk kimia hingga 25% secara umum, dan khusus pupuk fosfor bisa hemat hingga 50%.

(Kitani.id): Tantangan sektor pertanian hortikultura di Indonesia semakin kompleks. Di tengah ancaman alih fungsi lahan, kesuburan tanah juga menjadi masalah yang tak bisa disepelekan. Menanggapi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan strategi baru melalui inovasi pupuk hayati spesifik lokasi.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menjelaskan pentingnya pengelolaan hara yang tepat. Menurut Puji, sektor sayuran adalah penopang ekonomi masyarakat yang sangat vital. Namun, peningkatan produksi tidak boleh hanya mengandalkan pupuk kimia secara berlebihan.

Baca Juga  Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional

“Riset BRIN menunjukkan penggunaan pupuk hayati mampu menekan pemakaian pupuk kimia hingga 25 persen,” ujar Puji, Sabtu (28 Februari 2026). Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan keuntungan bagi para petani di lapangan.

Solusi Hara untuk Tanah Dataran Tinggi

Persoalan utama sering muncul pada jenis tanah Andisol yang banyak ditemukan di dataran tinggi Indonesia. Tanah ini sebenarnya kaya mineral, namun memiliki sifat “mengunci” unsur fosfor. Akibatnya, tanaman sayur seperti bawang dan cabai sering mengalami pertumbuhan yang lambat.

Baca Juga  Usai Swasembada Pangan, Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun Mendatang

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menekankan bahwa produktivitas nasional harus dipacu di tengah keterbatasan lahan. “Inovasi pupuk hayati berbasis riset dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan,” ungkap Dwinita.

Hal ini bertujuan agar petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia yang harganya kian mahal. Peneliti Ahli Muda, Agustina E. Br. Marpaung, menambahkan bahwa tim riset telah menemukan mikroba lokal yang mampu bekerja sebagai pelarut fosfat. Mikroba ini bekerja secara alami melepaskan ikatan mineral di tanah agar bisa diserap maksimal oleh akar tanaman.

Hemat Pupuk Fosfor Hingga 50 Persen

Teknologi ini dikembangkan dengan menggunakan media pembawa yang sederhana, seperti dedak dan ampas kelapa. Berdasarkan pengujian pada komoditas sayuran, formulasi ini terbukti mampu memperbaiki serapan hara tanaman secara signifikan.

Baca Juga  Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional

Hasil riset mencatat dampak positif yang luar biasa bagi efisiensi usaha tani. Penggunaan konsorsium mikroba ini mampu menaikkan hasil panen di atas 25 persen. “Inovasi ini bahkan mampu mengurangi penggunaan pupuk fosfor anorganik hingga 50 persen,” jelas Agustina.

Melalui forum HortiActive #24, BRIN berharap hasil riset ini bisa segera dinikmati oleh para petani dan pelaku industri. Pertanian berbasis biologis dianggap sebagai solusi jangka panjang agar tanah tetap sehat dan produksi sayuran nasional tetap terjaga.(*)

Berita Terkait

Usai Swasembada Pangan, Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun Mendatang
Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional
Kementan Tantang Lampung Jadi “Tulang Punggung” Swasembada Pangan Nasional
Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras
Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG
Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung
Sinergi Ketahanan Pangan Lampung Perkuat Infrastruktur Pascapanen di Desa
ISPI Diminta Manfaatkan Potensi Besar Sektor Peternakan Lampung

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:26 WIB

Usai Swasembada Pangan, Prabowo Targetkan Swasembada Energi Tiga Tahun Mendatang

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:14 WIB

Komitmen Pemerintah Provinsi Lampung Dukung Swasembada Pangan Nasional

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:55 WIB

Bapanas Intervensi Harga Daging Ayam Ras dan Telur Ayam Ras

Senin, 18 Mei 2026 - 21:26 WIB

Giri Akbar Siapkan Model Ekosistem Ekonomi Lokal Sinergi MBG

Jumat, 15 Mei 2026 - 17:48 WIB

Pertanian Dominasi Penyerapan KUR di Lampung

Berita Terbaru

Menggenjot serapan menu ayam dan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta mendesak kepatuhan terhadap regulasi harga.(Foto: ist)

Peternakan

Stabilisasi Harga Ayam Broiler Lewat Menu Makan Bergizi Gratis

Kamis, 11 Jun 2026 - 16:38 WIB