(Kitani.id): Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lampung, Bimo Epyanto, menyoroti struktur ekonomi daerah saat ini. Ia menekankan pentingnya pengembangan model bisnis hilirisasi pada komoditas strategis. Langkah ini bertujuan agar kekayaan alam Lampung memberikan manfaat lebih optimal.
Selama ini, komoditas unggulan Lampung cenderung hanya dikonsumsi langsung. Banyak produk dijual dalam bentuk mentah tanpa proses pengolahan lanjut. Kondisi tersebut dinilai belum mampu menciptakan nilai tambah yang maksimal.
Jika hanya habis dikonsumsi, nilai tambahnya menjadi sangat terbatas. Pertumbuhan ekonomi memang tetap besar karena volumenya yang tinggi. Namun, posisinya belum berada pada level yang benar-benar optimal bagi masyarakat.
Keuntungan Pengolahan Produk Turunan di Lampung
Nilai tambah komoditas Lampung sering kali justru dinikmati daerah lain. Hal ini terjadi karena industri pengolahan berada di luar wilayah Lampung.
Bank Indonesia kini mendorong agar proses hilirisasi dilakukan langsung di sini. Komoditas seperti cabai dan bawang merah tidak lagi dijual mentah. Keduanya dapat diolah menjadi saus atau bumbu olahan siap saji.
Dengan pengolahan ini, harga jual produk otomatis menjadi lebih tinggi. “Akan muncul aktivitas ekonomi baru yang berdampak pada peningkatan pajak daerah,” ujar Bimo, Jumat (1 Mei 2026).
Hilirisasi juga mampu membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal. Selain itu, kesejahteraan petani akan ikut meningkat secara signifikan.
Peluang besar ini juga terbuka lebar untuk komoditas kopi. Lampung adalah produsen besar, namun ekspornya mayoritas masih berbentuk biji mentah. Jika diolah di dalam daerah, penyerapan tenaga kerja akan jauh lebih besar.(*)








