Inti Berita
• Masalah: Volume sampah di Indonesia, termasuk wilayah Lampung, sudah dalam tahap mengkhawatirkan dan menyerupai “gedung belasan lantai”.
• Solusi: Percepatan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy melalui kolaborasi lintas lembaga.
• Data: Pemerintah menyiapkan 14 titik tambahan pada tahap kedua, di mana Lampung terpilih menjadi salah satu lokasi prioritas.
(Kitani.id): Kondisi tumpukan sampah di berbagai daerah kini sudah masuk kategori darurat dan memerlukan penanganan cepat. Menanggapi hal tersebut, pemerintah pusat mulai tancap gas mempercepat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di sejumlah wilayah strategis.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa setelah tahap pertama berjalan, pemerintah kini tengah menyiapkan 14 titik lokasi tambahan untuk tahap kedua.
Kabar baiknya, Lampung masuk ke dalam tahap dua daftar 10 lokasi awal yang telah ditentukan untuk pembangunan proyek energi hijau ini.
Transformasi Sampah Jadi Listrik
Langkah serius ini diambil karena gunungan sampah di tempat pembuangan akhir sudah sangat mengerikan. Bahkan, Zulkifli Hasan mengibaratkan kondisi sampah di Jakarta saat ini sudah setinggi gedung belasan lantai dengan volume mencapai 8.000 ton per hari.
“Sampai dua tahun ini kita akan selesaikan sampah ini, tentu yang waste to energy. Kemudian perkantoran, perumahan, sekolah, pasar harus kita selesaikan di tempat,” ujar Zulkifli saat rakortas di Kantor Kemenko Pangan, Kamis (12 Maret 2026).
Selain Lampung, beberapa kota besar lainnya yang masuk dalam daftar tahap kedua ini meliputi Medan, Semarang, Surabaya, Tangerang, hingga Jakarta.
Program ini diharapkan mampu memutus rantai masalah sampah yang selama ini hanya menumpuk tanpa memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kolaborasi Teknologi Tepat Guna
Pemerintah menyadari bahwa mengubah peradaban masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, teknologi waste to energy menjadi solusi paling konkret untuk mengeksekusi tumpukan sampah yang sudah ada (eksisting) maupun sampah baru.
Guna memastikan proyek ini berjalan lancar, pemerintah menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi seperti ITB.
Sinergi ini bertujuan untuk menciptakan teknologi pengolahan alat yang tepat guna dan efisien sesuai dengan karakteristik sampah di tiap daerah.
“Tinggal yang menunggu mungkin lama itu di rumah-rumah tangga karena merubah peradaban itu tidak mudah,” tambah Zulkifli menekankan pentingnya edukasi jangka panjang sembari infrastruktur teknologi disiapkan.(*)








