Inti Berita
• Masalah: Populasi harimau sumatra terus menurun akibat hilangnya habitat alami dan berkurangnya satwa mangsa seperti rusa.
• Solusi: Menjaga kelestarian hutan, menghentikan perdagangan satwa, dan memastikan ketersediaan pakan alami di hutan.
• Data: Konflik meningkat karena harimau kehilangan ruang hidup, yang memaksa predator ini mendekati pemukiman warga untuk mencari makan.
(Kitani.id): Pulau Sumatra kini menjadi benteng terakhir bagi harimau sumatra. Sayangnya, kondisi predator puncak ini sedang tidak baik-baik saja.
Penyempitan hutan dan hilangnya hewan buruan membuat populasinya terus merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Kenyataan pahit ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Ani Mardiastuti. Menurut dia, hilangnya habitat asli dan populasi rusa yang menipis menjadi ancaman paling serius saat ini.
“Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit,” ujar Ani seperti dilansir website IPB University.
Mangsa Hilang Memicu Konflik dengan Warga
Kondisi hutan yang semakin gundul membuat rantai makanan terputus. Ketika rusa sebagai mangsa utama sulit ditemukan, harimau terpaksa keluar hutan dan mendekati pemukiman manusia. Hal inilah yang sering memicu konflik karena ternak warga sering menjadi sasaran.
Ani menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya tidak memusuhi harimau. Namun, rasa takut muncul saat keselamatan nyawa dan harta benda mereka terancam. Dilema antara perlindungan satwa dan keselamatan manusia ini menjadi tantangan besar di lapangan.
Apalagi, perubahan lanskap hutan di Sumatra terjadi sangat masif untuk kebutuhan pembangunan. Akibatnya, ruang gerak sang raja hutan semakin terjepit.
Banyak harimau yang akhirnya harus ditangkap atau dipindahkan setelah terlibat konflik, yang justru mempercepat penurunan jumlah mereka di alam liar.
Keseimbangan Alam Lampung Taruhannya
Sebagai apex predator, peran harimau sangat krusial untuk menjaga stabilitas hutan. Jika harimau punah, populasi hewan pemakan tumbuhan akan meledak dan merusak regenerasi pohon-pohon hutan. Dampak kerusakan ini mungkin baru terasa puluhan tahun kemudian, namun kerugiannya bersifat permanen.
Oleh karena itu, upaya konservasi harus dilakukan sekarang sebelum terlambat. Menjaga habitat tersisa, seperti di kawasan hutan Lindung di Lampung, menjadi kunci utama. Masyarakat juga diajak untuk tegas menolak perdagangan bagian tubuh satwa liar.
“Sebelum terlambat, cobalah kita selamatkan. Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” pungkas Ani. (*)








