(Kitani.id): Selama ini, potensi ekonomi di lingkungan pesantren dan ormas Islam seringkali hanya jalan di tempat. Kendala klasik seperti manajemen yang tradisional, hingga sulitnya akses modal membuat produk-produk umat sulit bersaing di pasar yang lebih luas.
Kementerian Koperasi mencatat perlunya langkah konkret untuk mengubah dakwah menjadi gerakan ekonomi riil. Melalui kerja sama terbaru dengan MUI, pemerintah mulai mengucurkan dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) serta pelatihan SDM untuk memastikan produk umat tidak hanya sekadar diproduksi, tapi juga terjual.
Langkah pemberdayaan ekonomi umat melalui koperasi ini menjadi sangat penting sebagai penggerak ekonomi lokal dan jamaah. Dengan sistem yang lebih modern, koperasi masjid dan pesantren kini punya peluang besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi mandiri yang mampu menyejahterakan warga di sekitarnya.
Mencetak Manajer Modern di Pesantren
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa mencetak SDM berkualitas adalah kunci utama. Kemenkop akan mendorong Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) untuk melahirkan manajer-manajer andal yang akan ditempatkan di koperasi pesantren dan masjid.
“Kita mulai sekarang membangun kekuatan ekonomi di sektor riil melalui koperasi. Produk yang dihasilkan ormas-ormas Islam akan kita dampingi dan distribusikan,” ujar Menkop Ferry di Jakarta, Selasa (7 April 2026).
Fokus ini bertujuan agar koperasi tidak lagi dikelola secara asal-asalan. Dengan manajer yang modern, operasional koperasi di bawah naungan MUI diharapkan bisa lebih transparan, profesional, dan relevan dengan tantangan zaman.
Distribusi Luas Lewat Koperasi Merah Putih
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menyambut baik sinergi ini. Baginya, menyatukan potensi pesantren, lembaga pendidikan Islam, hingga masjid ke dalam satu wadah koperasi akan membuat urusan pembiayaan dan distribusi produk menjadi jauh lebih mudah.
Nantinya, produk buatan masyarakat di bawah naungan MUI akan disalurkan melalui jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pola distribusi ini diharapkan dapat memangkas jalur pasar yang selama ini menyulitkan pelaku usaha kecil di lingkungan umat.
“Pembiayaan insya Allah tidak sulit, kemudian produk yang kita punya juga tidak sulit untuk penjualan serta distribusinya,” tutur Cholil. Lewat program pemberdayaan ekonomi umat melalui koperasi, ekonomi berbasis umat kini siap naik kelas. (*)








