Inti Berita:
• Masalah: Kebutuhan pakan ikan nasional melonjak hingga 7,6 juta ton, sementara harga pakan komersial terus membebani pembudidaya.
• Solusi: BRIN menciptakan pakan ikan air tawar dari tepung daging ular dan biawak (limbah industri kulit).
• Data: Pakan ini menghasilkan Feed Conversion Ratio (FCR) 0,98, lebih efisien dibanding pakan komersial (FCR 1,1).
(Kitani.id): Industri perikanan budi daya Indonesia sedang tumbuh pesat. Data KKP 2025 menunjukkan produksi ikan mencapai 5,9 juta ton lebih. Kondisi ini memicu lonjakan kebutuhan pakan yang sangat tinggi. Para pembudidaya kini butuh alternatif pakan yang murah namun tetap bergizi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjawab tantangan tersebut. Mereka memformulasikan pakan inovatif berbahan dasar produk sampingan industri kulit.
Bahan bakunya memanfaatkan tepung daging ular dan daging biawak. Inovasi ini menyasar ikan kancra, nila, hingga ikan lele.
Efisiensi Tinggi dengan FCR di Bawah 1,0
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Reza Samsudin, memberikan penjelasan menarik. Menurut Reza, industri perikanan yang naik terus otomatis membutuhkan pasokan makan melimpah. Peluang bisnis ini sangat menjanjikan karena ikan tumbuh dan produksi terus banyak.
Hasil uji coba lapangan di berbagai sentra produksi sangat memuaskan. Pada ikan lele, pakan berbasis limbah reptil ini mencatat angka FCR 0,98. Artinya, pembudidaya hanya butuh 0,98 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan. Angka ini jauh lebih efisien daripada pakan toko.
“Bahwa industri perikanan naik terus. Otomatis apa? Ikan tumbuh, ikan produksi banyak, perlu makan,” ungkap Reza dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026 di Jakarta, Kamis (26 Februari 2026).
Potensi Bahan Baku Melimpah dan Murah
Pakan ini awalnya dirancang sebagai pakan tenggelam sesuai standar SNI. Namun, Reza memastikan formulasi ini sangat adaptif untuk industri besar. Mitra yang memiliki mesin extruder bisa mengubahnya menjadi pakan apung tanpa masalah.
Ketersediaan bahan baku juga terjamin untuk skala besar. Satu titik sentra pengolahan kulit mampu menyuplai 300 kg limbah daging setiap hari. Karena menggunakan bahan sisa, harga jual pakan ini diprediksi akan sangat kompetitif.
“Tapi kalau Bapak, Ibu dari teman-teman industri, teman-teman mitra ada yang punya extruder, no problem. Kita bisa buat pakan yang bentuknya floating, yang apung,” jelas Reza memastikan fleksibilitas produknya.(*)








