(Kitani.id): Nasib ratusan petani tebu mandiri di Way Kanan berada di ujung tanduk. Pasalnya, harapan mereka untuk menikmati hasil panen setahun sekali terancam buyar akibat ketidakpastian operasional di PT Pemuka Sakti Manis Indah (PT PSMI).
Padahal, jadwal semula menetapkan aktivitas tebang pada 4 April dan penggilingan perdana pada 5 April. Namun, pihak manajemen secara mendadak menunda jadwal tersebut karena sedang terjerat persoalan hukum serius dengan pihak Kejaksaan.
Dampak Penundaan Giling Terhadap Rendemen Tebu
Kabar mengenai potensi penyegelan pabrik hingga pembekuan rekening perusahaan kini membuat roda produksi lumpuh total. Kondisi ini sangat menakutkan bagi petani karena tebu yang sudah matang tidak bisa menunggu lebih lama di lahan.
Sebab, keterlambatan panen akan mengakibatkan kadar gula atau rendemen tebu menurun drastis. Kerugian materiil di depan mata ini membuat para petani merasa sangat terpukul dan terjepit oleh keadaan.
“Kami sangat dirugikan. Tebu yang sudah waktunya dipanen harus dibiarkan begitu saja. Jika lewat usia, kadar gula hilang, hasilnya hancur,” keluh Sartono, salah satu perwakilan petani dengan nada getir.
Nasib Buruh Tebang dan Rencana Aksi ke Kejati
Masalah ini ternyata merembet hingga ke sektor sosial, khususnya bagi ribuan tenaga tebang yang didatangkan dari Pulau Jawa. Saat ini, mereka tidak memiliki kepastian kerja meski sudah berada di lokasi sesuai jadwal yang dijanjikan.
Apalagi, para buruh tersebut biasanya sudah mengambil uang muka atau kasbon untuk biaya hidup keluarga mereka. Situasi ini memicu keresahan besar karena tidak ada sumber penghasilan untuk melunasi utang tersebut selama pabrik berhenti beroperasi.
Menyikapi hal itu, Aliansi Darurat Petani Tebu Mandiri berencana menggelar aksi damai di kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) pada 9 April nanti. Mereka berharap ada kebijakan agar proses hukum tetap berjalan tanpa mengorbankan mata pencaharian rakyat.
“Kami memohon agar masalah hukum ini tidak berujung pada penutupan pabrik. Kami minta solusi agar giling tetap berjalan,” tegas Edi, koordinator aliansi. (*)








