Inti Berita:
• Masalah: Biaya pakan menyedot 60-70% total biaya produksi ternak dan ketergantungan impor bahan baku masih mencapai 35%.
• Solusi: Diversifikasi pakan menggunakan bungkil inti sawit sebagai sumber energi dan serat lokal.
• Data: Indonesia adalah produsen sawit terbesar; bungkil inti sawit mengandung sekitar 60% nutrisi penting seperti selulosa, lemak, dan protein.
(Kitani.id): Pemanfaatan limbah perkebunan kini menjadi kunci bagi peternak untuk bertahan di tengah mahalnya harga pakan pabrikan. Salah satu potensi besar yang bisa dioptimalkan adalah bungkil inti sawit (BIS) sebagai bahan baku alternatif.
Kemandirian pakan menjadi isu krusial karena komponen ini merupakan pengeluaran terbesar dalam usaha peternakan. Direktur Pakan Ditjen PKH Kementan, Tri Melasari, menjelaskan bahwa optimalisasi bahan baku lokal seperti bungkil sawit sangat mendesak untuk dilakukan.
Langkah ini diambil guna menekan angka impor bahan baku pakan yang saat ini masih didominasi oleh bungkil kedelai (soybean meal) dan corn gluten meal. Oleh karena itu, pemerintah mendorong peternak untuk mulai melirik potensi di sekitar mereka.
“Antara 60-70% pakan itu merupakan komponen biaya, jadi komponen produksi, sehingga kemandirian pakan ini menjadi sangat penting,” ujar Tri dalam diskusi Perpustalk Ditjen PKH, Selasa (10 Maret 2026).
Kandungan Nutrisi dan Cara Penggunaan
Berdasarkan data GAPKI, bungkil inti sawit memiliki kadar hingga 46% dari total inti sawit yang diolah. Meskipun kandungan proteinnya tergolong rendah, namun bahan ini memiliki serat yang cukup tinggi sehingga sangat baik untuk hewan ruminansia seperti sapi atau kambing.
Namun demikian, peternak perlu memperhatikan takaran penggunaan karena bungkil sawit memiliki tingkat kecernaan yang rendah bagi unggas. Selain itu, kualitasnya sangat bergantung pada kadar minyak dan kebersihan dari campuran tempurung sawit.
“Ada bungkil kelapa sawit di mana notabene Indonesia adalah produksi kelapa sawit terbesar. Jadi bungkilnya itu kita manfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak,” tambah Tri menekankan pentingnya hilirisasi produk sampingan sawit ini. (*)








