Inti Berita:
• Masalah: Perlunya model budidaya hortikultura yang terencana agar petani Lampung menghasilkan buah berkualitas.
• Solusi: Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara sistematis dan berkelanjutan di lahan percontohan.
• Data: Penggunaan bibit unggul genetik dan teknologi pemangkasan tajuk untuk hasilkan kualitas buah premium.
(Kitani.id): Tanaman alpukat tumbuh subur dan berbuah lebat di lahan Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung. Keberhasilan budidaya alpukat siger ini menjadi bukti nyata pengelolaan lahan yang terencana.
Selain itu, capaian tersebut menunjukkan bahwa praktik pertanian yang tepat mampu menghasilkan nilai ekonomi tinggi.
Pengelolaan lahan dimulai dari pemilihan bibit unggul yang sesuai karakteristik wilayah Lampung. Bibit pilihan ini memiliki daya tumbuh serta potensi produksi yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu, tanaman mampu beradaptasi cepat dengan kondisi lingkungan setempat.
“Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan praktik budidaya yang tepat mampu menghasilkan komoditas hortikultura berkualitas,” ungkap pihak Bapeltan.
Perawatan Konsisten dalam Budidaya Alpukat Siger
Keberhasilan ini juga ditopang oleh perawatan tanaman yang dilakukan secara konsisten. Petugas melakukan pengolahan tanah dan pemupukan berimbang secara berkala. Kemudian, sistem pengairan terkontrol memastikan kebutuhan nutrisi tanaman selalu terpenuhi dengan baik.
Selanjutnya, penerapan teknologi tepat guna menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan optimal. Teknik pemangkasan dan pengaturan tajuk dilakukan agar pohon menghasilkan buah berkualitas premium. Alhasil, budidaya alpukat siger ini mampu menghasilkan ukuran dan rasa buah yang unggul.
Terlebih lagi, pendekatan ini bertujuan menjaga kesehatan tanaman tanpa merusak kelestarian lingkungan. Melalui pemantauan rutin, serangan hama dan penyakit dapat dikendalikan secara terpadu. Hal ini membuat produktivitas tanaman tetap terjaga dalam jangka panjang.
Sarana Edukasi Bagi Petani Lampung
Lahan di Bapeltan Lampung kini berfungsi sebagai pusat pembelajaran bagi para penyuluh. Peserta pelatihan dapat mempelajari langsung cara menerapkan standar operasional prosedur pertanian yang baik. Jadi, ilmu dari budidaya alpukat siger ini bisa langsung dipraktikkan di desa.
“Lahan ini menjadi sarana pembelajaran dan percontohan bagi peserta pelatihan, penyuluh, serta petani,” tambah pihak Bapeltan.
Ke depan, komoditas ini dinilai memiliki prospek pengembangan yang sangat cerah di Lampung. Bapeltan berkomitmen untuk terus meningkatkan inovasi dan transfer pengetahuan kepada masyarakat.
Harapannya, budidaya alpukat siger mampu mendorong peningkatan kesejahteraan dan ekonomi petani lokal.(*)








