Inti Berita:
• Masalah: Ketergantungan tinggi pada bahan bakar minyak (BBM) impor yang mulai menipis dan kurang ramah lingkungan.
• Solusi: Pemanfaatan buah nyamplung (Calophyllum inophyllum) sebagai sumber bioenergi terpendam melalui riset pembibitan dan teknologi konversi BRIN.
• Data/Biaya: Pohon nyamplung berbuah sepanjang tahun dan seluruh limbah pengolahannya (kulit hingga bungkil) memiliki nilai ekonomis sebagai produk turunan.
(Kitani.id): Indonesia memiliki harta karun tersembunyi di dalam hutan tropisnya yang bisa menjadi kunci ketahanan energi masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah serius meneliti buah nyamplung, spesies asli Indonesia yang bentuknya mirip kelengkeng, sebagai bahan baku biofuel.
Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan kita pada minyak bumi impor. Nyamplung dinilai sebagai biomassa hutan yang sangat potensial karena tanaman ini mampu tumbuh subur di berbagai lahan dan tidak bersaing dengan kepentingan pangan.
Peneliti Pusat Penelitian Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, menjelaskan bahwa minyak mentah dari nyamplung atau Tamanu Oil punya masa depan cerah. Minyak ini bisa diolah menjadi berbagai bahan bakar ramah lingkungan yang sangat dibutuhkan industri saat ini.
“Minyak nyamplung memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biofuel seperti biokerosin, biodiesel, dan bioavtur atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan,” ujar Budi Leksono dikutip dari laman resmi BRIN pada Jumat (13 Maret 2026).
Pemanfaatan Sains untuk Hilirisasi Hutan
BRIN menegaskan bahwa riset ini bukan bentuk eksploitasi hutan, melainkan optimalisasi biomassa menggunakan bantuan sains.
Fokus penelitian meliputi teknik pembibitan, pemuliaan pohon, hingga teknologi pengolahan agar hasilnya memenuhi standar ekonomi dan teknis sebagai alternatif BBM.
Selain menjadi bahan bakar, pohon nyamplung memberikan keuntungan lebih bagi petani dan pelaku industri karena berbuah sepanjang tahun. Hal ini menjamin ketersediaan bahan baku yang stabil tanpa harus menunggu musim tertentu.
Limbah Bernilai Ekonomi Tinggi
Menariknya, pengolahan nyamplung menerapkan prinsip zero waste atau bebas sampah. Seluruh bagian dari sisa pengolahan buah ini tetap memiliki harga jual yang tinggi di pasar, sehingga dapat menambah pendapatan masyarakat sekitar hutan.
Limbah berupa kulit buah bisa diolah menjadi arang aktif, sementara bungkil bijinya dapat dijadikan pakan ternak berprotein tinggi. Bahkan, sisa resin atau getahnya sangat laku di industri kosmetik dan obat-obatan herbal karena khasiatnya yang unik.
Budi Leksono menekankan bahwa kemandirian energi adalah hal yang sangat realistis bagi Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, Indonesia yang dulu dikenal sebagai pengekspor bahan bakar fosil, berpeluang besar menjadi pemain utama eksportir biofuel dunia.
“Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam penelitian dan sinergi kebijakan agar biofuel hasil hutan ini menjadi peta jalan energi kita,” pungkas Budi.(*)








