(Kitani.id): Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino kini membayangi produktivitas petani di berbagai wilayah Lampung. Tanpa ketersediaan air yang stabil, sawah tadah hujan terancam puso dan gagal panen massal. Kondisi ini menuntut langkah konkret agar sektor pangan tetap tangguh menghadapi cuaca ekstrem.
Namun, tantangan ini dihadapi dengan persiapan yang jauh lebih matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPTH) Lampung, saat ini tersedia 1.222 unit irigasi perpompaan yang siap siaga di 14 kabupaten dan kota.
Angka ini menunjukkan lonjakan besar dari tahun 2024 yang hanya berjumlah 415 unit pompa. Kesiapan infrastruktur tersebut menjadi kabar baik bagi keberlangsungan hidup para petani. Pasalnya, ketersediaan sumber air yang terjamin berarti kepastian produksi gabah tetap terjaga meski kemarau melanda.
Penguatan Sumber Daya Air
Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan bahwa kesiapan tahun 2026 ini jauh lebih baik. Program penguatan dari Kementerian Pertanian telah memberikan dukungan infrastruktur yang masif di lapangan.
“Bila dibandingkan 2023, pada 2026 ini bila ada fenomena El Nino kita lebih siap,” ujar Kepala Dinas KTPTH, Elvira Ummihani, di Bandarlampung, Jumat (10 April 2026).
Pembangunan yang dilakukan sejak 2024 hingga 2025 kini mulai dirasakan manfaatnya secara luas. Elvira menambahkan, program ini meliputi optimalisasi lahan melalui perpompaan, perpipaan, dan penyiapan alat mesin pertanian.
Sebaran Pompa di Wilayah Lampung
Distribusi 1.222 unit irigasi perpompaan ini mencakup hampir seluruh wilayah strategis pertanian. Wilayah seperti Lampung Timur mendapatkan alokasi 247 unit, disusul Way Kanan dengan 209 unit, dan Lampung Tengah sebanyak 187 unit.
“Harapannya ini sudah bisa mengatasi dampak dari fenomena El Nino, meski belum bisa semua karena masih ada lahan tadah hujan,” imbuhnya.
Selain pompa, pemerintah juga menyiagakan 95 unit irigasi perpipaan dan 110 unit kegiatan konservasi. Koordinasi lanjutan terus dilakukan untuk menyusun strategi jitu agar dampak kemarau tidak mengganggu kesejahteraan petani. (*)








