Lebih Sehat dan Alami, Pakar IPB Sarankan Peternak Ayam Petelur Gunakan Sistem Bebas Sangkar

Minggu, 11 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggunaan kandang individu yang sempit kini mulai ditinggalkan dan beralih ke sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar atau cage-free.

Penggunaan kandang individu yang sempit kini mulai ditinggalkan dan beralih ke sistem pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar atau cage-free.

Inti Berita:

Masalah: Kandang individu yang sempit membatasi gerak ayam dan dinilai melanggar prinsip kesejahteraan hewan.

Solusi: Penerapan sistem bebas sangkar (cage-free) dalam kandang komunal dengan fasilitas bertengger dan kotak sarang.

Manfaat: Ayam lebih bahagia karena bisa mengekspresikan perilaku alami, serta menghasilkan telur yang lebih berkualitas.

Tren: Meningkatnya permintaan konsumen terhadap pangan yang sehat dan diproduksi secara etis.

(Lingkartani.com): Dunia peternakan ayam petelur di tanah air kini tengah didorong untuk bertransformasi menuju sistem yang lebih manusiawi. Penggunaan kandang individu yang sempit kini mulai ditinggalkan dan beralih ke sistem pemeliharaan bebas sangkar atau cage-free. Pola ini dinilai memberikan ruang lebih luas bagi ayam untuk mengekspresikan perilaku alaminya.

Pakar peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa ayam petelur secara alami memiliki insting untuk berjalan, mandi debu, dan mencari pakan sendiri. Perilaku khas seperti mengepakkan sayap, meregangkan tubuh, hingga membuat sarang tidak akan pernah bisa ditampilkan jika ayam dikurung dalam sangkar sempit.

Baca Juga  Gen Z Jadi Kunci, Rumput Laut Indonesia Bisa Raup Omzet Rp24 Triliun

“Pemeliharaan dalam kandang individu membatasi ruang gerak ayam. Kondisi ini dinilai melanggar prinsip kesejahteraan hewan atau animal welfare,” ujar Prof. Ronny dalam keterangannya.

Menjaga Kebahagiaan Ayam di Dalam Kandang Komunal

Berbeda dengan sistem umbaran yang membiarkan ayam berkeliaran di luar, sistem bebas sangkar tetap dilakukan di dalam kandang tertutup namun bersifat komunal (bersama). Di dalam kandang ini, peternak wajib menyediakan fasilitas penunjang seperti tempat bertengger, area istirahat, dan kotak sarang khusus untuk bertelur.

Baca Juga  Cuan dari Rumah, 7 Ide Ternak Urban untuk Anak Muda

Dengan cara ini, ayam tetap terlindungi dari predator dan penyakit luar, namun memiliki kebebasan bergerak. Ayam yang tidak stres dan hidup dalam lingkungan yang nyaman cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik. Pola ini menjadi jalan tengah yang cerdas antara produktivitas dan kesejahteraan unggas.

Prof. Ronny menekankan bahwa sistem ini jauh lebih terkontrol dibandingkan sistem tradisional. Aspek kenyamanan ayam menjadi prioritas karena unggas yang bahagia akan memberikan imbal balik yang positif bagi peternaknya.

Telur Lebih Sehat untuk Konsumen yang Peduli Kualitas

Selain soal kebebasan gerak, sistem bebas sangkar ini berpotensi menghasilkan telur yang lebih sehat. Dalam sistem ini, peternak umumnya memberikan asupan pakan alami yang lebih beragam sebagai sumber nutrisi. Pola makan yang mendekati kondisi alami ini diyakini sangat berpengaruh terhadap kualitas protein dan gizi telur yang dihasilkan.

Baca Juga  Genjot Investasi Ayam Petelur, Upaya Kementan Amankan Pasokan Protein Nasional

Saat ini, perhatian konsumen terhadap keamanan pangan dan asal-usul produk ternak semakin meningkat. Konsumen kini tidak hanya mencari telur yang murah, tetapi juga telur yang diproduksi dengan cara yang baik dan tidak menyiksa hewan.

Prof. Ronny berharap sistem bebas sangkar ini dapat menjadi alternatif bagi para peternak ayam petelur di Indonesia, termasuk di wilayah Lampung. Dengan mengikuti tren global ini, peternak lokal diharapkan mampu meningkatkan nilai jual produknya sekaligus memenuhi standar kualitas pangan yang diinginkan pasar modern.(*)

Berita Terkait

Jangan Terkecoh Tampilan Bersih! Ini Ciri Ikan Asin Bebas Formalin
Khasiat Gambir, Emas Hijau Nusantara yang Digandrungi Dunia
Indigofera dan Jalan Baru Ketahanan Pakan di Lampung
Buah Nyamplung, Potensi Bahan Bakar Nabati dari Hutan
Manfaatkan Bungkil Inti Sawit, Peternak Lampung Bisa Hemat Biaya Pakan
Hemat Pakan, BRIN Olah Limbah Kulit Reptil Jadi Pakan Ikan Berkualitas
Urban Farming, Solusi Pangan di Tengah Hiruk Pikuk Lampung
Mengapa Buah Pisang Melengkung ke Atas?
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 17:24 WIB

Jangan Terkecoh Tampilan Bersih! Ini Ciri Ikan Asin Bebas Formalin

Senin, 30 Maret 2026 - 13:38 WIB

Khasiat Gambir, Emas Hijau Nusantara yang Digandrungi Dunia

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:21 WIB

Indigofera dan Jalan Baru Ketahanan Pakan di Lampung

Jumat, 13 Maret 2026 - 02:36 WIB

Buah Nyamplung, Potensi Bahan Bakar Nabati dari Hutan

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:19 WIB

Manfaatkan Bungkil Inti Sawit, Peternak Lampung Bisa Hemat Biaya Pakan

Berita Terbaru

Ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino diprediksi melanda Lampung pada Mei hingga September 2026.(ilustrasi: Kitani.id)

Dinamika

Mitigasi El Nino Lampung Jaga Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 Apr 2026 - 23:32 WIB

Produk perikanan Indonesia sulit bersaing global karena isu transparansi dan legalitas rantai pasok.(Foto: ist)

Perikanan

Stelina Perkuat Daya Saing Produk Perikanan Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 - 18:51 WIB