Inti Berita:
• Masalah: Indonesia masih terjebak mengekspor bahan mentah sehingga nilai tambah dinikmati negara lain.
• Solusi: Memperkuat pengolahan hasil tani di dalam negeri (hilirisasi) serta mengejar swasembada pangan total.
• Data: Indonesia menguasai 80% pasar gambir dunia dan sukses menekan harga beras global hingga 44% karena stop impor.
(Kitani.id): Sektor pertanian nasional kini mendapat perhatian besar dari masyarakat internasional. Banyak negara maju mulai melirik Indonesia sebagai contoh dalam urusan ketahanan pangan. Pencapaian ini membuktikan bahwa strategi menuju swasembada pangan sudah berada di jalur yang tepat.
Negara-negara seperti Jepang, Kanada, hingga Belarus kini datang langsung untuk belajar. Mereka ingin melihat bukti keberhasilan Indonesia dalam memperkuat sistem pangan global. Pengakuan ini juga dipertegas dengan penghargaan tertinggi dari badan pangan dunia, FAO, selama dua tahun berturut-turut.
“Jepang, Kanada, hingga Belarus datang belajar karena ada bukti yang kita tunjukkan. Ini adalah hasil kerja keras kita semua untuk republik ini,” ujar Andi Amran Sulaiman dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) di Makassar, Kamis (26 Maret 2026).
Mengubah Bahan Mentah Jadi Produk Bernilai Tinggi
Mentan Amran menekankan bahwa kunci utama kemandirian ekonomi adalah hilirisasi. Indonesia tidak boleh lagi hanya mengirim barang mentah ke luar negeri. Komoditas seperti kelapa, sawit, dan gambir memiliki potensi ekonomi luar biasa jika diolah di dalam negeri.
Sebagai contoh, air kelapa yang dikemas dengan baik memiliki harga jual sangat tinggi di pasar internasional. Begitu juga dengan gambir yang 80 persen pasokannya berasal dari Indonesia. Jika komoditas ini dikelola hingga menjadi produk jadi, nilainya bisa meningkat hingga ribuan triliun rupiah.
“Kelapa kita nomor satu di dunia, tapi dikirim bulat-bulat. Kalau ini diolah menjadi virgin coconut oil atau santan, nilainya naik puluhan kali lipat,” kata Mentan Amran di hadapan para pengusaha.
Swasembada Pangan Sebagai Benteng Negara
Ketahanan pangan merupakan persoalan strategis yang menyangkut stabilitas politik dan sosial. Krisis pangan dinilai jauh lebih berbahaya dibandingkan krisis ekonomi maupun kesehatan. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya menghentikan impor dan fokus pada produksi petani lokal.
Kebijakan ini terbukti membuahkan hasil signifikan bagi pasar global. Indonesia berhasil menekan harga pangan dunia karena berhenti mengimpor beras sebanyak 7 juta ton. Dampaknya, harga beras dunia turun hingga 44 persen dan menyelamatkan devisa negara sekitar Rp100 triliun.
“Negara bisa runtuh kalau krisis pangan. Makanya Presiden kita sangat visioner dengan mendorong swasembada pangan dan energi sejak awal,” tegas sosok asal Sulawesi tersebut. Melalui hilirisasi, petani diharapkan makin sejahtera karena harga jual hasil panen akan jauh lebih stabil dan tinggi.(*)








