Inti Berita:
• Masalah: Realisasi tanam jagung baru mencapai 650 ribu hektare (65%) dari target 1 juta hektare akibat kendala cuaca dan karakteristik lahan.
• Solusi: Percepatan tanam melalui kolaborasi dengan LSM dan program Perhutanan Sosial, serta dukungan alat mesin pertanian (alsintan) dan bibit unggul.
• Data: Impor jagung industri turun dari 1,4 juta ton menjadi 800 ribu ton; hasil panen diproyeksikan untuk pakan ternak hingga energi.
(Kitani.id): Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus dipacu melalui kolaborasi lintas lembaga. Polri melaporkan perkembangan terbaru mengenai program swasembada jagung kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Hingga saat ini, realisasi penanaman jagung tercatat baru mencapai 650 ribu hektare atau sekitar 65 persen dari target besar pemerintah seluas 1 juta hektare.
Asisten Kapolri Bidang SDM, Irjen Anwar, menjelaskan bahwa tantangan di lapangan cukup beragam. Mulai dari bencana alam, anomali cuaca, hingga perbedaan karakteristik lahan antara wilayah pegunungan dan persawahan yang memengaruhi kecepatan tanam.
Percepatan Tanam Melalui Kolaborasi
Meski menghadapi tantangan cuaca, Polri tetap optimistis mengejar sisa target. Langkah strategis yang akan diambil adalah menggandeng berbagai pihak, mulai dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), perorangan, hingga memaksimalkan lahan dari program Perhutanan Sosial.
“Kalau kemarin kita targetkan 1 juta hektare jagung, baru tertanam 650 ribu hektare,” ujar Irjen Anwar usai bertemu Mentan di Jakarta, Rabu (11 Maret 2026).
Pemerintah juga memberikan dukungan penuh dari sisi hulu. Mentan Amran langsung memastikan kesiapan bantuan alat pertanian seperti traktor dan mesin tanam modern.
Selain itu, penyediaan bibit unggul serta jaminan ketersediaan pupuk menjadi prioritas utama agar produktivitas di sisa lahan 350 ribu hektare tersebut dapat segera digenjot.
Jaminan Pasar dan Potensi Energi
Petani kini tidak perlu khawatir mengenai pemasaran hasil panen. Pemerintah telah menyiapkan skema penampungan (offtaker) yang rencananya akan ditangani langsung oleh Perum Bulog. Hal ini diperkuat dengan kehadiran Direktur Utama Perum Bulog dalam pertemuan tersebut untuk memastikan rantai distribusi berjalan lancar.
Hasil panen jagung ke depan diproyeksikan memiliki manfaat ganda. Selain untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak nasional, jagung hasil tanam ini juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku energi alternatif.
“Mudah-mudahan 1 juta hektare tercapai dan nanti selain untuk pakan, juga bisa digunakan untuk energi,” tambah Irjen Anwar.
Mentan Amran Sulaiman mengapresiasi kerja keras Polri yang turut andil dalam menekan angka impor. Saat ini, Indonesia telah menunjukkan prestasi luar biasa dengan menurunkan impor jagung industri dari 1,4 juta ton menjadi hanya sekitar 800 ribu ton.
Dengan sinergi yang kuat, impian swasembada jagung total di tahun 2026 pun semakin nyata.(*)








