Inti berita:
• Masalah: Risiko lunturnya kecintaan generasi muda terhadap pangan lokal “buak tuha” (kue tua).
• Solusi: Melestarikan pembuatan Leppot secara komunal sebagai simbol kebersamaan dan ketahanan budaya.
• Data: Beras ketan berkualitas, pembungkus daun enau, dan lidi enau sebagai pengikat alami.
(Kitani.id): Menjelang Idulfitri, masyarakat Kabupaten Tanggamus mulai sibuk menyiapkan bahan pangan lokal untuk perayaan hari raya. Salah satu menu wajib yang tidak pernah absen di meja makan adalah Leppot.
Hidangan berbahan dasar beras ketan ini, merupakan warisan leluhur yang terus dijaga untuk menjaga tradisi kuliner leppot di tengah gempuran makanan modern.
Rahasia Kenikmatan Pangan Lokal
Proses pembuatan kue ini membutuhkan ketelitian agar menghasilkan tekstur yang pulen. Beras ketan yang telah dibungkus rapi dengan daun enau harus direndam selama kurang lebih 3 jam sebelum direbus hingga matang. Aroma khas dari daun enau memberikan keharuman alami yang menggugah selera pada kudapan tradisional ini.
Upaya warga dalam menjaga tradisi kuliner leppot juga terlihat di Pekon Waykerap, Kecamatan Semaka. Para ibu rumah tangga biasanya berkumpul untuk menyiapkan adonan secara gotong royong.
Tradisi tersebut menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi antarwarga melalui aktivitas pengolahan pangan.
Primadona Meja Jamuan Lebaran
Leppot bukan sekadar camilan, melainkan hidangan pendamping utama layaknya ketupat. Tekstur ketan yang kenyal sangat serasi saat dipadukan dengan lauk berkuah santan yang gurih. Hidangan ini biasanya disajikan bersama rendang, gulai ayam, hingga tape ketan untuk menyambut tamu yang berkunjung.
“Saya dan keluarga rajin membuat Leppot ini karena merupakan menu turun-temurun saat lebaran. Rasanya enak, apalagi jika dihidangkan dengan rendang atau tape ketan,” ujar Suharni, warga Pekon Waykerap, Jumat (20 Maret 2026).
Melalui konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi kuliner leppot, nilai budaya dan kecintaan terhadap produk pertanian lokal tetap lestari. Selain saat Idulfitri, kue istimewa ini juga wajib hadir dalam acara adat besar atau tayuhan balak sebagai penghormatan terhadap tamu.(*)








