Inti Berita:
• Masalah: Komoditas unggulan Lampung (padi, jagung, singkong) mayoritas dijual mentah, modal keluar dari desa (capital flight), dan angka putus sekolah mencapai 30.000 anak/tahun.
• Solusi: Program “Desaku Maju” melalui pembangunan fasilitas pengering (dryer) di 500 desa, pengembangan pupuk organik cair (POC) di 2.000 desa, dan penguatan BUMDes.
• Data: Sektor pertanian menghidupi 1,2 juta keluarga (70% populasi Lampung). Produksi jagung mencapai 1,7 juta ton per tahun.
(Kitani.id): Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, terus mematangkan langkah untuk mempercepat hilirisasi komoditas unggulan berbasis perdesaan. Langkah ini bertujuan agar nilai tambah hasil bumi Lampung tidak lagi dinikmati daerah lain, melainkan berputar di kantong petani sendiri.
Hal tersebut ditegaskan Gubernur Mirza saat menerima jajaran Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Lampung di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Senin (2 Maret 2026). Fokus utama pemerintah saat ini adalah membangun ekosistem ekonomi melalui program strategis “Desaku Maju”.
Memutus Rantai Jual Mentah
Provinsi Lampung memiliki kekayaan komoditas yang luar biasa besar, terutama pada sektor pangan. Namun, tantangan klasik yang dihadapi adalah tata kelola pasca-panen yang belum maksimal sehingga petani seringkali terjebak menjual hasil mentah dengan harga rendah.
“Lampung adalah provinsi yang kaya komoditas. Padi, jagung, dan singkong saja menghidupi sekitar 1,2 juta kepala keluarga atau hampir 70 persen populasi. Kalau tiga komoditas ini kita selesaikan tata kelolanya, Lampung bisa take off,” ujar Mirza.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Lampung merancang pembangunan fasilitas pengering jagung secara masif di sekitar 500 desa sentra produksi. Apalagi, produksi jagung Lampung menyentuh angka 1,7 juta ton per tahun, namun masih terkendala sistem pengeringan (dryer) di tingkat bawah.
Menghidupkan Industri Pakan Berbasis Desa
Selain infrastruktur fisik, penguatan ekonomi juga dilakukan dengan mendekatkan industri ke sumber bahan baku. Pola ini diharapkan mampu memangkas biaya logistik yang selama ini membebani rantai pasok pangan.
“Kalau jagung dikeringkan di desa, dibuat pakan di desa, ayam dibesarkan dan diproses di desa, lalu masuk ke dapur MBG di desa, kita bisa mengurangi biaya logistik, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat konsumsi protein masyarakat,” jelas Mirza.
Tak hanya jagung, produktivitas lahan juga akan didorong melalui program pupuk organik cair (POC) di 2.000 desa. Targetnya, langkah ini mampu meningkatkan hasil panen hingga 15 persen, sembari memperkuat peran BUMDes sebagai penyerap (offtaker) komoditas lokal.
Tantangan SDM dan Kolaborasi Akademisi
Meskipun program ekonomi telah disusun rapi, Gubernur Mirza mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia tetap menjadi fondasi utama. Pasalnya, angka putus sekolah di Lampung yang mencapai 30.000 anak per tahun menjadi rapor merah yang harus segera diatasi.
Oleh karena itu, Mirza mengajak Kagama Lampung untuk terjun langsung mendampingi tata kelola desa dan riset pakan ternak. Menanggapi hal ini, Ketua Kagama Lampung, Qudrotul Ikhwan, menyatakan kesiapannya untuk memastikan program pemerintah menjadi gerakan yang berkelanjutan di masyarakat.
“Kami melihat banyak program pemerintah yang sangat baik, tetapi di lapangan sering terkendala pada aspek pendampingan dan perubahan mindset. Di sinilah Kagama ingin hadir,” pungkas Qudrotul. (*)








