Strategi Gubernur Mirza Bangun Ekosistem Ekonomi Desa, Jagung dan Pakan Ternak Jadi Kunci

Selasa, 3 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. (Foto: ist)

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. (Foto: ist)

Inti Berita:

Masalah: Komoditas unggulan Lampung (padi, jagung, singkong) mayoritas dijual mentah, modal keluar dari desa (capital flight), dan angka putus sekolah mencapai 30.000 anak/tahun.

Solusi: Program “Desaku Maju” melalui pembangunan fasilitas pengering (dryer) di 500 desa, pengembangan pupuk organik cair (POC) di 2.000 desa, dan penguatan BUMDes.

Data: Sektor pertanian menghidupi 1,2 juta keluarga (70% populasi Lampung). Produksi jagung mencapai 1,7 juta ton per tahun.

(Kitani.id): Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, terus mematangkan langkah untuk mempercepat hilirisasi komoditas unggulan berbasis perdesaan. Langkah ini bertujuan agar nilai tambah hasil bumi Lampung tidak lagi dinikmati daerah lain, melainkan berputar di kantong petani sendiri.

Hal tersebut ditegaskan Gubernur Mirza saat menerima jajaran Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Lampung di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Senin (2 Maret 2026). Fokus utama pemerintah saat ini adalah membangun ekosistem ekonomi melalui program strategis “Desaku Maju”.

Baca Juga  Wagub Jihan Nurlela Dorong Integrasi Program Desaku Maju untuk Perkuat Ekonomi Desa

Memutus Rantai Jual Mentah

Provinsi Lampung memiliki kekayaan komoditas yang luar biasa besar, terutama pada sektor pangan. Namun, tantangan klasik yang dihadapi adalah tata kelola pasca-panen yang belum maksimal sehingga petani seringkali terjebak menjual hasil mentah dengan harga rendah.

“Lampung adalah provinsi yang kaya komoditas. Padi, jagung, dan singkong saja menghidupi sekitar 1,2 juta kepala keluarga atau hampir 70 persen populasi. Kalau tiga komoditas ini kita selesaikan tata kelolanya, Lampung bisa take off,” ujar Mirza.

Sebagai langkah konkret, Pemprov Lampung merancang pembangunan fasilitas pengering jagung secara masif di sekitar 500 desa sentra produksi. Apalagi, produksi jagung Lampung menyentuh angka 1,7 juta ton per tahun, namun masih terkendala sistem pengeringan (dryer) di tingkat bawah.

Baca Juga  Pendaftaran Magang Jepang PYFLTJ Dibuka, Petani Muda Lampung Berpeluang Belajar Pertanian Modern

Menghidupkan Industri Pakan Berbasis Desa

Selain infrastruktur fisik, penguatan ekonomi juga dilakukan dengan mendekatkan industri ke sumber bahan baku. Pola ini diharapkan mampu memangkas biaya logistik yang selama ini membebani rantai pasok pangan.

“Kalau jagung dikeringkan di desa, dibuat pakan di desa, ayam dibesarkan dan diproses di desa, lalu masuk ke dapur MBG di desa, kita bisa mengurangi biaya logistik, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memperkuat konsumsi protein masyarakat,” jelas Mirza.

Tak hanya jagung, produktivitas lahan juga akan didorong melalui program pupuk organik cair (POC) di 2.000 desa. Targetnya, langkah ini mampu meningkatkan hasil panen hingga 15 persen, sembari memperkuat peran BUMDes sebagai penyerap (offtaker) komoditas lokal.

Baca Juga  Gubernur Mirza Pasang Badan, Minta Pusat Stop Impor Tapioka dan Utamakan Petani Lampung

Tantangan SDM dan Kolaborasi Akademisi

Meskipun program ekonomi telah disusun rapi, Gubernur Mirza mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia tetap menjadi fondasi utama. Pasalnya, angka putus sekolah di Lampung yang mencapai 30.000 anak per tahun menjadi rapor merah yang harus segera diatasi.

Oleh karena itu, Mirza mengajak Kagama Lampung untuk terjun langsung mendampingi tata kelola desa dan riset pakan ternak. Menanggapi hal ini, Ketua Kagama Lampung, Qudrotul Ikhwan, menyatakan kesiapannya untuk memastikan program pemerintah menjadi gerakan yang berkelanjutan di masyarakat.

“Kami melihat banyak program pemerintah yang sangat baik, tetapi di lapangan sering terkendala pada aspek pendampingan dan perubahan mindset. Di sinilah Kagama ingin hadir,” pungkas Qudrotul. (*)

Berita Terkait

Menjaga Tradisi Kuliner Leppot, Hidangan Ikonik Lebaran Masyarakat Tanggamus
Bulog Salurkan Bantuan Pangan untuk 1,2 Juta Warga Lampung
Hampers Sayur dan Buah Presiden Prabowo Diklaim Simbol Kemandirian Bangsa
Produk Perikanan Nasional Perkuat Jejaring Bisnis di Seafood Expo North America 2026
Petani Lampung Perlu Manfaatkan Varietas Padi Adaptif Hadapi Kemarau 2026
Gubernur Mirza Apresiasi Restorasi Ekosistem Way Kambas
Hilirisasi Komoditas Jadi Kunci Ekonomi Lampung Tembus 8 Persen
Stok Pangan Aman Jelang Lebaran, Harga Terkendali

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 22:13 WIB

Menjaga Tradisi Kuliner Leppot, Hidangan Ikonik Lebaran Masyarakat Tanggamus

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:02 WIB

Bulog Salurkan Bantuan Pangan untuk 1,2 Juta Warga Lampung

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:52 WIB

Hampers Sayur dan Buah Presiden Prabowo Diklaim Simbol Kemandirian Bangsa

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:37 WIB

Produk Perikanan Nasional Perkuat Jejaring Bisnis di Seafood Expo North America 2026

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:09 WIB

Petani Lampung Perlu Manfaatkan Varietas Padi Adaptif Hadapi Kemarau 2026

Berita Terbaru

Penguatan rantai pasok kakao melalui agregasi petani, perbaikan sistem pascapanen, dan integrasi logistik dari hulu ke hilir.

Perkebunan

Membenahi Rantai Pasok Kakao Nasional untuk Tekan Impor

Senin, 23 Mar 2026 - 20:04 WIB