Inti Berita:
• Masalah: Ketidakpastian cuaca ekstrem dan risiko banjir/hama pada musim tanam 2026.
• Solusi: Integrasi data iklim BMKG sebagai rujukan utama kalender tanam dan pendampingan penyuluh.
• Data: Curah hujan di sentra pangan diprediksi melampaui 2.500 mm per tahun.
(Kitani.id): Kementerian Pertanian kini memperkuat pemanfaatan data iklim dari BMKG. Langkah strategis ini bertujuan untuk mendampingi penyuluh di lapangan. Tujuannya agar stabilitas produksi pangan tetap terjaga aman. Apalagi saat ini tantangan cuaca ekstrem makin sulit ditebak.
Data tersebut akan menjadi rujukan utama bagi para petani. Mulai dari penyusunan kalender tanam hingga pengelolaan air lahan.
Selain itu, mitigasi risiko hama juga menjadi fokus utama. Penyuluh kini menjadi ujung tombak dalam mengambil keputusan berbasis data.
Penyuluh Sebagai Radar Pemerintah di Lapangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya transformasi data ini. Dia menyebut penyuluh adalah sosok yang sangat krusial bagi petani. Transformasi penyuluhan berbasis data menjadi kunci menghadapi tantangan iklim global.
“Penyuluh adalah radar pemerintah di lapangan. Di era iklim yang sulit ditebak ini, integritas kalian diuji dari seberapa akurat data yang dilaporkan. Jika datanya nyata, maka solusi yang kita berikan untuk petani tidak akan meleset,” tegas Amran.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti juga menekankan pentingnya sinergi. Pihaknya meminta semua pihak bergerak dalam satu irama yang sama. Hal ini penting untuk menghadapi ancaman banjir dan serangan hama. Dengan begitu, petani tetap bisa tanam dan panen dengan tenang.
Waspada Risiko Banjir di Akhir Tahun 2026
Berdasarkan proyeksi terbaru, tahun 2026 memerlukan kewaspadaan yang lebih tinggi. Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki memaparkan data yang signifikan. Curah hujan di wilayah sentra pangan diperkirakan melampaui 2.500 mm.
“Memasuki pertengahan tahun 2026, kondisi iklim pada Musim Tanam II diprediksi berada pada kategori kemarau normal,” jelas Marjuki.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi hujan lokal yang tidak menentu. Selanjutnya pada Musim Tanam III, risiko banjir diperkirakan meningkat drastis. Marjuki meminta penyuluh mensosialisasikan penguatan drainase dan penggunaan varietas tahan genangan.
“Iklim dari BMKG harus menjadi ‘kitab suci’ baru bagi penyuluh dalam menentukan kalender tanam. Peran penyuluh sebagai penghubung informasi adalah penentu nasib usaha tani di daerah,” pungkas Marjuki.(*)








