Inti Berita
• Masalah: Regenerasi petani yang melambat (didominasi usia di atas 50 tahun) dan tantangan pemantauan produktivitas lahan secara presisi.
• Solusi: Inovasi digital Kodam II/Sriwijaya (Korem 043/Gatam) melalui aplikasi pemantau lahan 10 hektare dan sistem digitalisasi peternakan.
• Data: Sistem mampu mengestimasi waktu panen, potensi pendapatan, hingga pengawasan produksi telur secara daring.
(Kitani.id): Komisi I DPR RI memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan teknologi pertanian di Lampung. Anton Sukartono Suratto selaku Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses memuji langkah nyata Kodam dalam memperkuat pangan. Strategi ini dinilai menjadi solusi modern untuk menarik minat generasi muda di sektor pertanian.
Pantau Lahan Pertanian Lewat Ujung Jari
Inovasi yang paling mencuri perhatian adalah pengembangan aplikasi khusus pemantau lahan. Sistem digital ini mampu memetakan produktivitas lahan pertanian hingga seluas 10 hektare secara mendetail. Alhasil, perkembangan tanaman dapat dipantau setiap saat tanpa harus selalu berada di lokasi.
Aplikasi tersebut juga memberikan data estimasi waktu panen yang sangat akurat. Selain itu, petani bisa melihat potensi pendapatan yang akan diperoleh secara transparan.
Keunggulan ini membuat pengelolaan pertanian di wilayah Lampung menjadi jauh lebih terukur dan profesional.
“Bayangkan, tim Kodam menciptakan aplikasi untuk mengecek 10 hektare lahan pertanian. Kita bisa tahu kapan panen dan berapa estimasi pendapatannya. Ini luar biasa,” ujar Anton dalam keterangan tertulisnya, Senin (9 Maret 2026).
Digitalisasi Peternakan dan Tantangan Regenerasi
Tidak hanya di sawah, sentuhan teknologi juga masuk ke area peternakan warga.
Saat ini terdapat sistem pemantauan produksi telur yang dilakukan sepenuhnya secara daring. Maka dari itu, proses pengawasan menjadi lebih efektif karena data produksi masuk secara real-time.
Langkah strategis TNI ini diharapkan mampu menjawab tantangan besar mengenai regenerasi petani. Mengingat mayoritas petani saat ini sudah berusia lanjut, hadirnya teknologi menjadi daya tarik bagi pemuda. Sinergi antara pertahanan dan ketahanan pangan ini menjadi fondasi kuat bagi masa depan Lampung.
“Kalau tentara mengurus pertahanan itu sudah biasa. Namun, ketika ikut membina ketahanan pangan dengan inovasi digital, ini sesuatu yang sangat istimewa,” tambah Anton.(*)








