Inti Berita:
• Masalah: Banyak hasil riset pertanian hanya berhenti di atas kertas dan tidak sampai ke tangan petani atau industri.
• Solusi: Sinergi antara Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN untuk memastikan inovasi riset menjadi kebijakan nyata dan produk komersial.
• Data: Kolaborasi melibatkan 18 perguruan tinggi dan memanfaatkan 188 paten pangan milik BRIN untuk mendukung swasembada.
(Kitani.id): Sektor pertanian Indonesia kini memasuki babak baru yang lebih modern. Kementerian Pertanian resmi menggandeng para akademisi dan peneliti dari BRIN serta berbagai perguruan tinggi untuk memastikan teknologi terbaru tidak hanya tersimpan di laboratorium, tapi benar-benar bisa digunakan oleh petani di lahan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemajuan pangan mustahil dicapai tanpa adanya sentuhan inovasi. Kerja sama ini bertujuan agar setiap temuan ilmiah dari kampus bisa ditarik menjadi kebijakan pemerintah atau masuk ke dunia industri agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat luas.
“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” ujar Amran usai menandatangani kesepakatan di Jakarta, Kamis (12 Maret 2026).
Fokus pada Komoditas Strategis dan Alat Mesin Pertanian
Kesepakatan besar ini mencakup koordinasi riset untuk berbagai komoditas yang sangat akrab dengan petani di Lampung, seperti padi, jagung, kelapa, kopi, hingga kakao.
Tidak hanya soal benih, kerja sama ini juga menyasar pengembangan alat mesin pertanian (alsintan), pupuk, serta teknologi pengolahan pascapanen agar nilai jual produk petani semakin tinggi.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengungkapkan tantangan besar yang selama ini dihadapi dunia akademik adalah sulitnya menembus pasar komersial. Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi di seluruh Indonesia akan dikonsolidasikan untuk fokus pada riset yang mendukung kemandirian pangan nasional.
“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi sangat penting,” jelas Brian.
Memperkuat Pertanian Modern dari Hulu ke Hilir
Senada dengan hal tersebut, Kepala BRIN Arif Satria memandang sektor pertanian sebagai fondasi peradaban bangsa yang harus diperkuat dengan teknologi. Saat ini, BRIN sudah mengantongi 188 paten di bidang pangan yang siap digunakan oleh industri untuk mempercepat proses hilirisasi.
Sinergi yang melibatkan 18 perguruan tinggi ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian. Dengan pertukaran data yang lebih cepat dan pemanfaatan fasilitas riset bersama, pemerintah optimis kemandirian pangan dan daya saing komoditas Indonesia di pasar global akan meningkat pesat. (*)








