Inti Berita:
• Masalah: Ketersediaan benih berkualitas sering menjadi kendala bagi petani di Lampung untuk meningkatkan hasil panen.
• Solusi: Pemprov Lampung menjalin kolaborasi strategis dengan PT Sang Hyang Seri (SHS) untuk fokus pada pengembangan pusat benih.
• Data: Lampung mencatat surplus padi 3,5 juta ton pada 2025 dan menjadi produsen jagung lima besar nasional.
(Kitani.id): Pemerintah Provinsi Lampung terus bergerak cepat guna mendukung agenda swasembada pangan nasional. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, kini menjajaki kolaborasi strategis dengan PT Sang Hyang Seri (SHS). Pertemuan ini fokus pada penguatan sektor Perbenihan Padi Lampung, jagung, serta kedelai secara berkelanjutan.
Rapat strategis tersebut berlangsung di Ruang Rapat Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Selasa (10/2/2026). Selain itu, kerja sama ini bertujuan mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto di bidang pangan. “Lampung menargetkan penguatan sebagai lumbung pangan nasional,” ujar Mirza dengan penuh semangat.
Fokus Benih dan Sejahterakan Petani Penangkar
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, Adhi Cahyono Nugroho, menyatakan bahwa perusahaannya kini fokus penuh pada urusan benih. Pihak SHS melihat Lampung memiliki potensi sangat strategis sebagai basis produksi benih masa depan. Oleh karena itu, SHS menawarkan skema offtake yang sangat menguntungkan bagi para petani penangkar lokal.
Melalui skema ini, petani akan mendapatkan pembayaran maksimal satu hari setelah panen. Selain itu, harga beli benih lebih tinggi Rp300 hingga Rp500 per kilogram dari harga pasar. “Skema ini terbukti meningkatkan minat petani penangkar dan menjamin kesejahteraan mereka,” ungkap Adhi saat menjelaskan programnya.
Optimalkan Aset dan Tingkatkan Produktivitas
Selanjutnya, Gubernur Mirza mendorong agar pengembangan Perbenihan Padi Lampung dilakukan di lokasi-lokasi unggulan. Beberapa wilayah seperti Trimurjo, Pringsewu, hingga Tanggamus menjadi prioritas utama karena produktivitasnya yang tinggi. Selain itu, terdapat peluang pemanfaatan aset fasilitas riset milik SHS di Nambahrejo, Lampung Tengah.
Kehadiran SHS dianggap sangat tepat karena sektor pertanian menopang 28 persen ekonomi di Bumi Ruwa Jurai. Apalagi, Lampung berhasil meraih surplus produksi padi hingga 3,5 juta ton pada tahun 2025 lalu. “Dukungan SHS diharapkan mampu memperkuat basis produksi pertanian kita,” pungkas Asisten II Pemprov Lampung, Mulyadi Irsan.(*)








