Inti berita:
• Masalah: Rencana impor ayam dari Amerika Serikat (AS) melalui Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) berpotensi menekan peternak lokal.
• Solusi: Memanfaatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pasar khusus (hilirisasi) untuk menyerap produksi ayam domestik.
• Data: Riset BRIN menunjukkan MBG berpotensi meningkatkan PDB hingga Rp26 triliun dan mendongkrak investasi sektor pangan sebesar 0,24%.
(Kitani.id): Pemerintah tengah menyiapkan strategi besar untuk melindungi peternak ayam lokal dari dampak kebijakan impor. Melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), produk ayam dalam negeri akan mendapatkan kepastian pasar yang sangat luas.
Langkah ini dinilai menjadi kunci penguatan hilirisasi sektor peternakan. Selain memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, program ini bertindak sebagai perisai ekonomi bagi peternak rakyat di berbagai daerah, termasuk Lampung.
Keuntungan Melimpah bagi Peternak Lokal
Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa kebutuhan pasokan untuk program MBG sangat besar. Maka, pasar khusus ini harus sepenuhnya diisi oleh produk peternak dari dalam negeri.
“Karena adanya pasokan dari dalam negeri untuk kebutuhan MBG besar, maka market-market khusus itu harus dipasok dari dalam negeri,” ujar Tauhid Ahmad di Jakarta, Jumat (6 Maret 2026).
Menurutnya, pemerintah juga perlu memberikan dukungan infrastruktur agar harga jual ayam domestik lebih kompetitif. Hal ini mencakup ketersediaan pakan yang murah serta akses obat-obatan hewan yang terjangkau bagi para peternak.
Dampak Ekonomi Hingga Puluhan Triliun
Sejalan dengan hal itu, riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi dampak positif MBG. Program ini diproyeksikan mampu menambah Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp14,5 triliun hingga Rp26 triliun.
Ketua Tim Peneliti MBG BRIN, Iwan Hermawan, menyebutkan bahwa peningkatan produksi paling signifikan terjadi pada sektor beras, olahan daging, dan susu. Sektor pangan pun diperkirakan akan menyerap tenaga kerja tambahan hingga 0,19%.
“Program MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur. Jadi, simulasinya menunjukkan peningkatan tambahan PDB itu sebesar Rp14,5-26 triliun,” kata Iwan Hermawan dalam seminar hasil riset di Jakarta, Rabu (4 Maret 2026).
Meskipun Indonesia masih mengimpor bibit ayam (GPS) sebanyak 580.000 ekor dari AS untuk kebutuhan genetik, pemerintah memastikan perlindungan peternak tetap prioritas. Fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan pangan bergizi tersebut bersumber dari rantai pasar lokal yang kuat.(*)








