Inti Berita:
• Masalah: Penurunan produksi kakao tahun 2025 di tengah lonjakan harga global.
• Solusi: Kementan genjot produktivitas, peremajaan tanaman, dan percepatan hilirisasi kakao rakyat.
• Data: Produksi kakao nasional 2026 diproyeksikan naik hingga 635 ribu ton.
(Kitani.id): Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat prestasi besar pada sektor perkebunan Indonesia. Nilai ekspor kakao nasional kini menembus angka fantastis yakni Rp 44,6 triliun. Menariknya, Provinsi Lampung terus mengukuhkan posisi sebagai penyumbang produksi utama di Sumatra. Pencapaian ini menjadi modal kuat untuk menghadapi permintaan pasar global tahun 2026.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menargetkan kenaikan produksi kakao domestik. Menurut Amran, produksi tahun ini diproyeksikan naik menjadi 635 ribu ton.
“Peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul harus menjadi prioritas utama,” tegasnya. Oleh karena itu, pemerintah fokus melakukan pendampingan intensif bagi para pekebun rakyat.
Kontribusi Besar Petani Kakao di Lampung
Selanjutnya, Sumatra tercatat menyumbang produksi kakao sebanyak 164 ribu ton. Dalam catatan tersebut, wilayah Lampung menjadi salah satu tulang punggung utama.
Sedangkan luas areal perkebunan secara nasional pun kini mencapai 1,38 juta hektare. Hebatnya, sebanyak 99 persen lahan kakao ini dikelola langsung oleh rakyat.
Kemudian, Amran Sulaiman mendorong percepatan hilirisasi agar nilai tambah meningkat. Pihaknya tidak ingin Indonesia hanya terus-menerus mengekspor bahan mentah saja. Strategi ini sangat penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Dengan hilirisasi, kesejahteraan keluarga pekebun bisa lebih terjamin.
Momentum Harga Global untuk Kesejahteraan Pekebun
Sementara itu, harga biji kakao fermentasi global sedang mengalami penguatan. Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat menilai ini sebagai peluang besar. Roni mendorong para petani untuk meningkatkan kualitas pengolahan melalui proses fermentasi. “Ini adalah momentum bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, pemerintah ingin memperkuat industri pengolahan dari hulu ke hilir. Produk seperti cocoa butter hingga cokelat jadi harus mulai diproduksi massal. Langkah ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok dunia. Dengan perbaikan kualitas, kakao asal Lampung diharapkan mampu bersaing di pasar Eropa.(*)








