Inti Berita:
• Masalah: Industri makanan dan minuman (MaMin) membutuhkan standar mutu jagung spesifik yang belum sepenuhnya terpenuhi secara volume domestik.
• Solusi: Pemerintah membuka akses impor jagung asal Amerika Serikat (AS) khusus untuk bahan baku industri guna menjaga keberlangsungan produksi.
• Data: Kebutuhan impor jagung industri tahun 2025 mencapai 1,4 juta ton untuk menopang sektor yang menyumbang 7,13% PDB nasional.
(Kitani.id): Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memastikan kebijakan impor jagung dari Amerika Serikat tidak mengganggu petani.
Langkah ini diambil murni untuk menjaga ketersediaan bahan baku industri makanan dan minuman (MaMin). Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari pengaturan perdagangan bilateral yang sangat terukur.
Melalui skema ini, industri dalam negeri dapat memperoleh spesifikasi jagung yang sesuai standar produksi global.
Jaga Stabilitas Industri Makanan Nasional
Volume impor jagung untuk kebutuhan industri MaMin pada tahun 2025 dipatok sekitar 1,4 juta ton. Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa jagung asal AS memiliki kualitas yang dibutuhkan pabrik.
Kepastian pasokan bahan baku menjadi faktor krusial untuk menjaga daya saing ekspor manufaktur nasional. Langkah tersebut juga diambil agar operasional pabrik makanan di berbagai wilayah tetap berjalan stabil tanpa kendala.
“Ketentuan ini mengatur bahwa Indonesia memberikan akses impor jagung asal AS untuk peruntukan bahan baku industri MaMin,” jelas Haryo dalam keterangan resmi, Minggu (22 Februari 2026).
Dia juga menambahkan bahwa kebijakan ini penting demi keberlangsungan industri yang memiliki kontribusi signifikan. Tanpa pasokan yang pasti, pertumbuhan ekonomi dari sektor non-migas bisa terhambat di masa mendatang.
Kontribusi Besar Sektor MaMin Bagi Ekonomi
Sektor industri makanan dan minuman tercatat menyumbang 7,13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, sektor ini berkontribusi sekitar 21 persen dari total ekspor industri non-migas nasional.
Nilai ekspor yang dihasilkan mencapai angka fantastis yakni 48 miliar dollar AS. Pemerintah melihat sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja yang sangat besar bagi masyarakat luas.
“Sektor ini menyerap lapangan kerja hingga 6,7 juta orang pada tahun 2025,” ungkap Haryo mempertegas urgensi kebijakan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah tetap membuka kran impor dengan volume tertentu setiap tahunnya.
Fokus utamanya adalah menjaga keseimbangan antara perlindungan petani lokal dan kebutuhan industri manufaktur. Pengaturan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan dunia yang semakin kompetitif. (*)








