Inti berita:
• Masalah: Ketergantungan impor susu nasional masih tinggi (produksi lokal baru 21%) dan sektor peternakan kerap dituding sebagai penyumbang gas metan.
• Solusi: Memperkuat riset pembiakan (breeding) sapi perah dan teknologi pengurangan gas metan untuk mendukung program pangan nasional.
• Data: Target produksi susu 96% pada 2029 dengan kebutuhan tambahan 1,5 juta liter susu dan 47.000 ton daging sapi.
(Kitani.id): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memfokuskan pengembangan teknologi pada bidang hewani. Upaya ini menjadi strategi lembaga tersebut dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.
Riset mendalam diperlukan agar kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi dari sumber dalam negeri. Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa penguatan pangan nasional merupakan keputusan strategis Presiden RI Prabowo Subianto.
Hal ini harus didukung dengan inovasi nyata di lapangan, terutama pada komoditas susu. Saat ini, produksi susu lokal baru menyumbang sekitar 21 persen dari total kebutuhan nasional.
“Kita berharap agar bisa sampai 96 persen produksi susu kita sampai 2029. Karena itu perlu riset, perlu inovasi,” ujar Arif Satria di Kantor BRIN, Jakarta, Jumat (27 Maret 2026).
Genjot Produktivitas Sapi Perah Lokal
Guna mengejar target ambisius tersebut, BRIN sedang meningkatkan kemampuan pembiakan (breeding) sapi perah. Fokus utama adalah mendongkrak produktivitas susu yang sangat diperlukan oleh generasi mendatang.
Selain itu, kolaborasi internasional dijalankan untuk berbagi teknologi peternakan dengan praktisi industri dari Eropa dan negara lainnya. Selain urusan produksi, riset juga menyasar pada isu perubahan iklim.
Sektor peternakan sering dianggap menghasilkan gas metan yang tinggi. Melalui pendekatan sains, BRIN berupaya menekan emisi tersebut agar ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
Arif meyakini bahwa sentuhan teknologi akan membuat sektor ini lebih adaptif. Dengan begitu, dampak perubahan iklim dapat diantisipasi tanpa mengganggu target ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Peluang Besar Bagi Investor Peternakan
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyebut Program MBG sebagai pengubah keadaan (game changer). Kebijakan ini menciptakan permintaan pasar yang besar dan stabil bagi para pelaku usaha peternakan di Indonesia.
Proyeksi kebutuhan tambahan dari program ini mencapai 1,5 juta liter susu dan 47.000 ton daging sapi hingga tahun 2029. Angka ini memberikan sinyal positif bagi dunia investasi untuk masuk ke sektor hulu pertanian dan peternakan. Pasarnya sudah tersedia dan dipastikan terus bertumbuh.
“Program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga memperkuat transformasi sektor pangan kita,” tegas Rachmat. Sinergi antara riset BRIN dan kebijakan pemerintah diharapkan mampu menjadikan Indonesia mandiri secara pangan dalam waktu dekat. (*)








