Inti Berita:
• Masalah: Alih fungsi lahan dan rendahnya ketersediaan hara (fosfor) di tanah dataran tinggi menghambat produktivitas sayuran nasional.
• Solusi: BRIN dorong penggunaan pupuk hayati spesifik lokasi berbasis mikroba lokal untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.
• Data/Biaya: Penggunaan pupuk hayati mampu menekan pemakaian pupuk kimia hingga 25% secara umum, dan khusus pupuk fosfor bisa hemat hingga 50%.
(Kitani.id): Tantangan sektor pertanian hortikultura di Indonesia semakin kompleks. Di tengah ancaman alih fungsi lahan, kesuburan tanah juga menjadi masalah yang tak bisa disepelekan. Menanggapi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan strategi baru melalui inovasi pupuk hayati spesifik lokasi.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menjelaskan pentingnya pengelolaan hara yang tepat. Menurut Puji, sektor sayuran adalah penopang ekonomi masyarakat yang sangat vital. Namun, peningkatan produksi tidak boleh hanya mengandalkan pupuk kimia secara berlebihan.
“Riset BRIN menunjukkan penggunaan pupuk hayati mampu menekan pemakaian pupuk kimia hingga 25 persen,” ujar Puji, Sabtu (28 Februari 2026). Langkah ini dinilai strategis untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan keuntungan bagi para petani di lapangan.
Solusi Hara untuk Tanah Dataran Tinggi
Persoalan utama sering muncul pada jenis tanah Andisol yang banyak ditemukan di dataran tinggi Indonesia. Tanah ini sebenarnya kaya mineral, namun memiliki sifat “mengunci” unsur fosfor. Akibatnya, tanaman sayur seperti bawang dan cabai sering mengalami pertumbuhan yang lambat.
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menekankan bahwa produktivitas nasional harus dipacu di tengah keterbatasan lahan. “Inovasi pupuk hayati berbasis riset dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan,” ungkap Dwinita.
Hal ini bertujuan agar petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia yang harganya kian mahal. Peneliti Ahli Muda, Agustina E. Br. Marpaung, menambahkan bahwa tim riset telah menemukan mikroba lokal yang mampu bekerja sebagai pelarut fosfat. Mikroba ini bekerja secara alami melepaskan ikatan mineral di tanah agar bisa diserap maksimal oleh akar tanaman.
Hemat Pupuk Fosfor Hingga 50 Persen
Teknologi ini dikembangkan dengan menggunakan media pembawa yang sederhana, seperti dedak dan ampas kelapa. Berdasarkan pengujian pada komoditas sayuran, formulasi ini terbukti mampu memperbaiki serapan hara tanaman secara signifikan.
Hasil riset mencatat dampak positif yang luar biasa bagi efisiensi usaha tani. Penggunaan konsorsium mikroba ini mampu menaikkan hasil panen di atas 25 persen. “Inovasi ini bahkan mampu mengurangi penggunaan pupuk fosfor anorganik hingga 50 persen,” jelas Agustina.
Melalui forum HortiActive #24, BRIN berharap hasil riset ini bisa segera dinikmati oleh para petani dan pelaku industri. Pertanian berbasis biologis dianggap sebagai solusi jangka panjang agar tanah tetap sehat dan produksi sayuran nasional tetap terjaga.(*)








