Inti Berita:
• Masalah: Indonesia berencana mengimpor 580.000 induk ayam (GPS) dari AS dengan harga sangat murah, yang berisiko memicu kelebihan pasokan (oversupply).
• Solusi: Kuota impor disarankan tidak melebihi 600.000 ekor agar pasar tetap stabil, meski ada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
• Data: Harga impor hanya Rp493 ribu/ekor (diskon 50% dari harga normal USD 60-70). Kuota impor 2026 melonjak jadi 800.000 ekor.
(Kitani.id): Rencana pemerintah mendatangkan ratusan ribu induk ayam atau Grand Parent Stock (GPS) dari Amerika Serikat membawa kabar mengejutkan. Pasalnya, harga yang disepakati jauh di bawah harga pasar normal.
Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan peternak mandiri dan UMKM sektor unggas mengenai masa depan harga ayam di tingkat peternak. Kesepakatan ini tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Indonesia berencana mengimpor 580.000 ekor GPS dengan nilai mencapai USD 17 juta hingga USD 20 juta. Jika dihitung dengan kurs saat ini, harga per ekor induk ayam tersebut hanya sekitar Rp493 ribu.
Harga Murah yang Mencurigakan
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Pardjuni, menanggapi angka tersebut dengan penuh tanya. Menurutnya, harga normal induk ayam saat ini biasanya berada di kisaran USD 60 hingga USD 70 atau sekitar Rp1 juta lebih per ekornya.
“Kalau saya hitung harga GPS segitu murah. Harga normal GPS sekarang ini sudah mencapai sekitar USD 60-70, apa mungkin harganya diturunkan sampai dengan 50 persen?” ujar Pardjuni pada Rabu (25 Februari 2026).
Pardjuni menilai harga yang sangat miring ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi peternak lokal. Meskipun biaya pengadaan bibit terlihat lebih hemat, namun potensi banjirnya stok ayam di masa depan justru mengancam stabilitas bisnis peternakan rakyat.
Ancaman Oversupply di Tahun 2028
Dampak dari banyaknya impor induk ayam ini memang tidak langsung terasa sekarang. Namun, Pardjuni menjelaskan bahwa satu ekor GPS berpotensi menghasilkan sekitar 150 ekor bibit ayam (Day Old Chick) per minggu dalam dua tahun ke depan.
Artinya, lonjakan impor tahun 2026 akan berdampak nyata pada tahun 2028. Data menunjukkan kuota impor GPS tahun 2026 melonjak menjadi 800.000 ekor.
Padahal, pada tahun 2025 saja kuotanya hanya 578.000 ekor. Jika rencana ini jalan terus, produksi bibit ayam nasional bisa menembus 80 juta ekor per minggu, sementara kebutuhan pasar hanya sekitar 65 juta ekor.
“Jika tahun 2026 ini Makan Bergizi Gratis berjalan 100 persen dengan lauk daging ayam, saya kira sudah cukup dengan kuota GPS seperti tahun lalu. Kalaupun mau ditambah, maksimal 600.000 GPS saja,” tegas Pardjuni mengingatkan agar pemerintah tidak kebablasan dalam menentukan kuota impor. (*)








