Inti Berita:
• Masalah: Rendahnya keuntungan yang diterima petani dalam rantai pasok global (hanya sekitar 5%) serta ketatnya standar mutu pasar internasional.
• Solusi: Diplomasi Presiden Prabowo berhasil membebaskan tarif bea masuk 173 komoditas pertanian ke AS menjadi 0%, yang harus dijawab dengan penguatan sertifikasi organik dan mutu.
• Data: Komoditas unggulan Lampung seperti kopi, lada, kakao, singkong, dan nanas masuk dalam daftar bebas tarif tersebut.
(Kitani.id): Diplomasi ekonomi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto berhasil membuka pintu lebar-lebar ke pasar Amerika Serikat (AS) dengan kebijakan tarif nol persen untuk 173 pos tarif komoditas pertanian.
Peluang emas ini mencakup produk-produk andalan Lampung, mulai dari kopi, kakao, lada, hingga olahan singkong dan nanas. Namun, di balik kemudahan tarif ini, ada tantangan besar yang harus dihadapi yakni standar mutu yang sangat ketat.
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengingatkan bahwa pembebasan tarif ini tidak akan berarti banyak jika produk kita tidak mengantongi sertifikasi internasional seperti standar organik USDA atau fairtrade.
“Untuk bisa masuk pasar Amerika Serikat harus sesuai dengan standar mereka. Kalau tidak tersertifikasi ya… tidak bisa ekspor,” ujar Esther, Senin (14 Maret 2026).
Memperbaiki Nasib Petani di Rantai Pasok
Selama ini, petani seringkali menjadi pihak yang paling sedikit menikmati keuntungan dalam perdagangan global. Berdasarkan riset Indef, petani hanya menikmati sekitar 5 persen dari total keuntungan di rantai pasok, jauh di bawah eksportir atau pengolah (roaster).
Dengan adanya tuntutan sertifikasi dan standar mutu yang lebih tinggi, posisi tawar petani diharapkan bisa meningkat. Sertifikasi bukan sekadar kertas, melainkan tiket bagi petani untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi dan perlindungan harga yang lebih baik.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut optimis kesepakatan resiprokal ini. Ia menilai produk perkebunan dan hortikultura Indonesia kini memiliki daya saing yang jauh lebih kuat di pasar Amerika.
“Ini adalah peluang besar. Kakao, CPO, karet, dan lain-lain, insya Allah nol tarifnya,” tegas Mentan Amran.
Fokus pada Kebutuhan Domestik dan Mutu
Meski pasar ekspor kini terbuka lebar, Esther menyarankan agar para produsen tetap menjaga keseimbangan dengan kebutuhan di dalam negeri.
Pemenuhan stok domestik harus tetap menjadi prioritas utama sebelum melempar sisa produksi ke pasar global.
Bagi petani di Lampung, kebijakan ini adalah panggilan untuk mulai memperhatikan cara budidaya yang lebih modern dan organik. Komoditas seperti lada, cengkeh, kayu manis, hingga tepung singkong kini punya kesempatan untuk merajai pasar Amerika tanpa terbebani bea masuk yang mahal.
“Singkong dan sagu pun masuk dalam daftar bebas tarif. Jika petani semakin sejahtera dan mutu produk kita semakin maju, maka ekonomi daerah akan semakin kuat,” pungkasnya.(*)








